Pemkab Siak Usulkan KITB Jadi KEK

Pekanbaru (ANTARAriau News) - Pemerintah Kabupaten Siak, Riau, mengusulkan Kawasan Industri Tanjung Buton (KITB) menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

        "Pemerintah Kabupaten Siak telah melakukan berbagai studi kelayakan serta pengurusan perizinan dan rekomendasi dalam pengembangan KITB sejak tahun 2001," kata Bupati Siak, Syamsuar, Kamis.

        Ia mengatakan pihaknya baru saja melakukan presentasi ke Sekretariat Dewan Nasional KEK Kementerian Perekonomian di Jakarta pada Kamis (15/9). Hadir dalam pertemuan itu Ketua DPRD Siak, Zulfi Mursal.

        Dalam pertemuan yang dihadiri oleh Wakil Ketua Sekretariat Dewan Nasional KEK, Budi Santoso, itu, Pemerintah Kabupaten Siak telah menyerahkan dokumen administrasi pengembangan KITB sebagai bukti keseriusan pemerintah daerah.

        "Sejak 2001 kami telah melakukan studi kelayakan teknis KITB, yang dilakukan oleh satuan kerja terkait," ujarnya.

        Ia menjelaskan studi kelayakan itu, antara lain studi "masterplan", alur perairan dan pelayaran, infrastruktur dasar, FS dan rencana air baku, Penyusunan DED Pelabuhan, hingga Amdal, dan perencanaan teknis dasar.

        Menurut Syamsuar, KITB layak dijadikan KEK karena posisinya sangat dekat dengan Selat Malaka dan Singapura. Bahkan, KITB dinilai layak sebagai pusat pengembangan industri dan pelabuhan potensial dikawasan segitiga SIJORI (Singapura-Johor-Riau).

        Selain itu, lokasi KITB berada di tengah Pulau Sumatera akan menguntungkan bagi alur angkut berbagai komoditi bagi daerah-daerah lain.

        Ia mengatakan, Wakil Ketua Sekretariat Dewan Nasional KEK, Budi Santoso, sangat menyambut baik usulan Pemerintah Kabupaten Siak yang berkeinginan menjadikan KITB sebagai KEK di Provinsi Riau, selain KEK di Kota Dumai.

        "Karena keinginan Pemkab Siak dinilai sejalan dengan rencana Percepatan Pembangunan dan Perluasan Pembangunan Indonesia atau MP3I, yang menjadi acuan dalam mengembangkan kebijakan perekonomian Indonesia," ujarnya.

        Direktur Himpunan Kawasan Industri Indonesia, Fahmi Shahab,  berharap KITB bisa berkembang dengan karakteristik sendiri dan tidak menjiplak KEK yang sudah ada di Pulau Jawa.

        "Kami berharap nantinya KITB menjadi KEK yang pendekatannya fokus pada penyediaan bahan baku dan bukan seperti KEK yang ada di Pulau Jawa yang karakteristiknya dekat dengan pasar," katanya.

        Menurut dia, peningkatan KITB menjadi KEK diyakini akan meningkatkan perekonomian karena mengoptimalkan potensi sumber daya alam Riau dan menambah nilai tambah untuk industri di daerah yang selama ini hanya mengeksploitasi bahan mentah.

        "Kemudian pengembangan ke arah KEK akan membantu optimalisasi peran sektor industri dan sektor perekonomian pengganti migas," ujarnya.  
   Secara fisik dan teknis, KITB mendapat predikat layak dijadikan kawasan industri dan pelabuhan berdasarkan survey tim Departemen Perhubungan RI tahun 2004.