Menikmati Beragam Pesona Taman Nasional Tesso Nilo

Pekanbaru (antarariau.com) - Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Provinsi Riau memiliki potensi sumber daya alam yang menakjubkan. Setiap pengunjung akan serasa menjadi raja saat gajah-gajah terlatih menyambut kedatangan tamu dengan kalung rangkaian bunga.


Menteri Kehutanan menetapkan kawasan konservasi ini pada 19 Juli 2004 dengan luas 38.576 hektare (ha). Kemudian pada 2009, pemerintah memperluas TNTN hingga kini mencapai 83.068 (ha). Sebagian besar kawasan itu berada di Pelalawan, dan sebagian kecil di Kabupaten Indragiri Hulu.


Taman nasional, yang diapit sungai Tesso dan Nilo ini, berjarak sekitar 180 kilometer dari Pekanbaru. Untuk para "backpackers", perlu waktu sekitar empat jam perjalanan darat dari Pekanbaru ke Simpang Ukui. Moda transportasi bisa menggunakan  bus lintas Sumatera atau menggunakan travel. Dari sana perjalanan disambung dengan ojek melalui perjalanan sekitar 25,3 kilometer.


Menikmati pesona TNTN bisa dimulai dari dari menyusuri Sungai Nilo, dengan menggunakan dua perahu bermotor yang disebut Pompong.
Sungai Nilo mempunyai lebar enam meter, bermuara ke Sungai Indragiri, sedangkan hulunya ada di Sungai Kampar.


Menyusuri Sungai Nilo, pengunjung akan menemukan hutan tropis yang alami. Hawa dingin dan udara segar langsung menyergap begitu pompong melaju. Pohon yang hidup di kawasan tersebut tingginya ada yang mencapai puluhan meter, salah satunya adalah pohon Sialang tempat lebah membuat sarang.


Di sisi kanan dan kiri sungai, sering terlihat monyet-monyet yang bergelantungan pada tanaman bakau yang hidup disisi sungai. Kicauan burung yang beterbangan tersebut mengiring deru perahu motor yang membelah Sungai Nilo.


TNTN memiliki keanekaragaman hayati berupa 360 jenis flora dalam 165 marga dan 57 suku, 107 jenis burung, 23 jenis mamalia, tiga jenis primata, 50 jenis ikan, 15 jenis reptilia dan 18 jenis amfibia yang hidup.

 

Selain itu, TNTN juga merupakan area jelajah harimau Sumatera (panthera tigris Sumatrae) dan habitat asli dari gajah Sumatera (elephas maximus sumatranus). Populasi hewan bongsor berbelalai itu diperkirakan berkisar 150-200 ekor di TNTN.

 

Setelah puas menikmati keindahan Sungai Nilo, pengunjung bisa melihat langsung proses pengolahan madu Sialang. Masyarakat sekitar taman nasional kini sudah mengembangkan pola pengolahan madu secara alami dan higienis. Madu sialang menggunakan proses penirisan, tidak diremas seperti proses pengolahan madu lainnya.


Dengan begitu, warna madu lebih jernih dan paling sedap dinikmati dengan segelas air dingin. Warga sekitar TNTN juga mengolah sarang lebah menjadi lilin (beeswax) yang memiliki aroma harum dan menenangkan.

 

Menikmati pesona TNTN tidaklah lengkap apabila tanpa bermain dengan gajah-gajah jinak. Di kawasan itu terdapat "flying squad camp" tempat dimana gajah jinak dipelihara dan pengelolaannya mendapat bantuan dari organisasi pencinta lingkungan WWF. Tempat itu dilengkapi fasilitas dua "guest house" yang disewakan untuk pengunjung.


Di tempat inilah pengunjung disambut dengan karangan bunga yang dibawa oleh gajah-gajah jinak. Ada Rahman, gajah berusia 32 tahun dengan gadingnya yang panjang, kemudian ada Ria yang merupakan betina berusia 30 tahun.

 

Totalnya ada tujuh gajah terlatih ditempat itu. Ada juga gajah-gajah muda, yakni Teso dan Nela, masing-masing masih berusia empat tahun. Dan taukah Anda, salah satu gajah di TNTN merupakan kesayangan dari Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan. Bahkan, sang menteri menganggapnya sebagai anak angkat hingga gajah itu diberi nama Imbo.


Di Flying Squad ini pengunjung bisa dengan santai melihat anak-anak gajah bermain sambil asik menyeruput es madu Sialang asli dari TNTN. Minuman ini menjadi pelepas dahaga dan kelelahan.

 

Usai beristirahat, gajah-gajah jinak Flying Squad sudah menanti untuk menampilkan atraksi disungai. Para pengunjung bisa ikut memandikan gajah Lisa dan Imbo.

 

Seringkali Imbo, gajah kecil kesayangan Menteri Kehutanan, berlari-larian saat dimandikan oleh pengunjung. Itu tandanya ia senang dan ingin bermain dengan kita.

 

Pesona TNTN juga sudah memikat Nadide, mantan Puteri Indonesia 2005. Saat mengunjungi TNTN, gadis cantik itu tak sungkan berbasah ria ketika memandikan gajah Imbo. Bahkan dengan sepenuh hati, ia menggosok tubuh gajah dengan tangannya dan menepuk belalai gajah dengan penuh kasih sayang.

 

Pengunjung TNTN juga dibekali dengan pengetahuan seputar gajah Sumatera, mulai dari sifatnya hingga metode pengusiran gajah liar. Salah satu pengalaman yang menarik adalah membuat "brownies gajah". Panganan ini bukanlah kue biasa karena brownies berasal dari campuran jagung, dedak, irisan gula merah dan mineral yang dikukus.

 

Selain pengunjung bisa ikut dalam pembuatannya, pengunjung juga bisa langsung menyuapi brownies ke gajah-gajah jinak. Itulah momen yang sangat langka karena pengunjung bisa sangat dekat dengan gajah langsung di habitatnya di TNTN.

 

Selain itu, pengunjung juga diajari cara merakit dan memainkan meriam karbit. Meriam karbit terbuat dari pipa peralon dan gunanya untuk menghalau gajah liar yang masuk ke permukiman.

 

Begitu dinyalakan, lubang kecil tersebut langsung ditutup dengan tangan. Dan DUARR... Suara meriam karbit menggema hingga ke penjuru TNTN. (Advertorial) ***