Diskessos Kabupaten Pelalawan, Melayani dengan Empatik

Pekanbaru, (antarariau.com) - Sudah terdengar umum bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara seperti yang disebutkan pada pasal 34 ayat (1) UUD 1945. Tanggung jawab ini khususnya dipegang oleh instansi di bidang sosial mulai dari kementrian sosial sampai dengan perangkat dinas di Kabupaten/Kota. Tak terkecuali di Kabupaten Pelalawan, Riau.  Untuk mengurusi masalah tersebut Dinas Kesejahteraan Sosial (Diskessos) menjadi ujung tombaknya di Kabupaten dengan motto “Tuah Negeri Seiya Sekata” ini.

 

Menyesuaikan dengan target pemerintahan kabupaten,  Diskessos dalam upaya menyelesaikan masalah sosial berfokus pada upaya penurunan angka kemiskinan.  Melalui kinerjanya, ditargetkan Pelalawan pada 2016 menyisakan 10 persen warga miskin. Untuk mewujudkan hal tersebut, dibuatlah motto kerja “Melayani dengan EMPATIK” yang artinya adalah melayani dengan Efektif,  Memberdayakan, Profesional,  Akuntabel, Tanggap,  Inovatif, dan Kesetiakawanan.

 

Sasaran dalam meningkatkan kesejahteraan sosial dan mengurangi angka kemiskinan di Pelalawan tetap dilakukan dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah.  Persisnya merujuk pada Peraturan Menteri Sosial No. 8 Tahun 2012 tentang Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS).  Dalam aturan tersebut terdapat 26 PMKS yang akan dijadikan barometer penanganan masalah sosial. 26 PMKS  itu adalah:
1.    Anak Balita Terlantar
2.    Anak Terlantar
3.    Anak yang Berhadapan dengan Hukum
4.    Anak Jalanan
5.    Anak dengan Kedisabilitasan
6.    Anak yang Menjadi Korban Tindak Kekerasan dan Diperlakukan Salah
7.    Anak yang Memerlukan perlindungan Khusus
8.    Lanjut Usia terlantar
9.    Penyandang Disabilitas
10.    Tuna Susila
11.    Gelandangan
12.    Pengemis
13.    Pemulung
14.    Kelompok minoritas
15.    Bekas Warga Binaan Lembaga Permasyarakatan
16.    Orang dengan HIV/AIDS (ODHA)
17.    Korban Penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Psykotropika, dan Zat Adiktif lainnya)
18.    Korban Trafficking
19.    Korban Tindak Kekerasan
20.    Pekerja Migran Bermasalah Sosial
21.    Korban Bencana Alam
22.    Korban Bencana Sosial
23.    Perempuan Rawan Sosial Ekonomi
24.    Fakir Miskin
25.    Keluarga Bermasalah Sosial Psikologi
26.    Komunitas Adat Terpencil

 

Menyesuaikan dengan karakteristik lokal,  menurut Kepala Diskessos Kabupaten Pelalawan Drs. H. Fakhrizal M.Si, tentu tidak semua PMKS tersebut akan diakomodir oleh lembaganya. Setelah melakukan kajian mendalam tentang masalah sosial di pelalawan, dipetakanlah fokus penting penanganan PMKS di Pelalawan. Terdapat delapan PMKS yang menjadi fokus Diskessos Pelalawan. Diantaranya adalah anak terlantar, lanjut usia, penyandang disabilitas, tuna susila, pekerja migran, korban bencana alam, fakir miskin, dan komunitas adat terpencil (KAT).

 

Dijelaskan Fakhrizal telah banyak tindakan nyata yang penting dilakukan mengatasi delapan penyandang masalah sosial tersebut. Ia mencontohkan untuk anak terlantar telah dibuatkan beberapa unit panti. Kedepan Pelalawan akan memiliki panti sosial terpadu yang telah diusulkan kepada bupati sehingga semuanya bisa tertampung. Selain itu bagi masyarakat yang mempunyai panti ataupun yang akan mendirikan panti, diberikan fasilitas dan kemudahan oleh Diskessos.

 

“Kemudahan bagi masayarakat yang mendirikan panti adalah dalam bentuk kemudahan pengurusan Surat Izin Operasi (SIO),” katanya.

 

Selanjutnya tindakan nyata untuk Penyandang Masalah Sosial juga dilakukan pada Tuna Susila. Meskipun Wanita Tuna Susila (WTS) di pelalawan bukanlah masyarakat Pelalawan, namun pelayanan dan bimbingan sosial tetap dilakukan. Mengingat Pelalawan adalah daerah industri, terdapat beberapa tempat yang yang menjadi kantong WTS tersebut. Upaya yang dilakukan Diskessos adalah berkoordinasi dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang melakukan eksekusi terhadap penyekit masyarakat.

 

"Setelah dikoordinasikan dengan Satpol PP, kami melakukan pendekatan sosial terhadap mereka agar bisa meninggalkan prilaku tersebut melalui bimbingan dan arahan. Setelah terehabilitasi, bagi yang ingin pulang ke daerah asal, ke manapun dan berapaun biayanya akan kami tanggulangi,” terang Fakhrizal.

 

Kemudian dicontohkannya juga PMKS lainnya yang marak di Pelalawan yaitu pekerja Migran. Seperti yang telah disebutkan tadi, Pelalawan adalah daerah industri sehingga mengundang siapa saja untuk mencari rezeki di sini. Namun tak semuanya yang sesuai dengan harapan. Ada yang mengalami ketidakpastian nasib dan kekerasan. Diceritakan Fakhrizal, beberapa waktu lalu terdapat empat orang pekerja migran yang terlantar dan juga mengalami tindak kekerasan. Ketika ada laporan, Diskessos langsung tanggap sesuai dengan motto “EMPATIK” tadi.

 

“Empat orang pekerja yang terlantar tersebut minta dikembalikan ke tempat asalnya, namun tak punya biaya. Kami fasilitasi, apabila juga tidak sanggup akan kami estafetkan ke instansi sosial di tempat lainnya karena kami secara nasional telah memiliki jaringan yang kuat,” ujarnya.

 

Tidak hanya bagi yang berhubungan dengan kemiskinan saja, namun pencegahan kemiskinan juga dilakukan dengan memberi bantuan pada korban bencana alam. Meskipun tidak miskin, tapi potensi kemiskinan bisa terjadi akibat bencana alam. Bukan rahasia lagi jika bencana yang ada di pelalawan adalah banjir dan kabut asap.  Bencana kabut asap baru-baru ini dimana Pelalawan juga merupakan sumber kebakaran membuat warga Pelalawan membutuhkan perhatian sosial. Tindakan cepat dilakukan dengan pemberian masker.

 

Selain itu, paket bantuan tidak akan tersalurkan tanpa adanya DIskessos yang tahun ini telah menyiapkan 1000 paket bantuan ditambah lagi dari Pemerintah Provinsi 1000 paket lagi. Berbeda dengan tahun lalu, Pelalawan tidak punya paket sehingga harus menunggu uluran bantuan dari Provinsi.

 

Untuk Fakir Miskin upaya yang dilakukan tidak dengan bantuan secara langsung, namun dengan bantuan yang mewujudkan suatu kemandirian pada masyarakat. Dua program yang bisa dilihat adalah bantuan untuk kelompok Usaha bersama (Kube). Satu kelompok terdiri dari 10 Kepala Keluarga dan modal yang diberikan adalah Rp 20 juta. Sampai saat ini telah ada beberapa Kube yang sukses. Contohnya usaha kue, bengkel  las, dan ada juga kedai bakso.

 

Satu lagi adalah program bedah rumah yang selaras dengan program Bupati Pelalawan.  Sejak tahun 2008 ada 468 rumah hasil dari program ini dengan bantuan satu rumah itu adalah Rp 15-20 juta. Namun untuk tahun ini yang ditargetkan dibedah lagi 250 rumah bantuannya sebesar Rp 25 juta disesuaikan dengan kenaikan harga bahan bangunan. Pelaksanaan bedah rumah ini bukanlah sekedar bantuan mentah saja, tapi mengedepankan swadaya masyarakat.

 

“Bagi yang mau bekerja dipersilahkan sehingga bisa menghemat upah pekerja. Lalu kelebihan dari upah tersebut bisa dialihkan kepada penambahan untuk membeli bahan bangunan,” kata Fakhrizal.

 

Terakhir fokus PMKS yang juga diharapkan menjadi perhatian nasional adalah komunitas adat terpencil (KAT) di Pelalawan. Mereka merupakan salah satu kantong kemiskinan karena sulit terjangkau dan budayanya yang homogen.  Di Pelalawan terdapat satu suku asli yang tertinggal yaitu Suku Akit yang terdapat di Kecamatan Kuala Kampar.

 

Saat ini terdapat 50 KK di sana dan sering berpindah-pindah, akan tetapi kerap terlihat dekat di sungai Upit. Keadaan tempat tinggal mereka sungguh memprihatinkan karena atapnya saja dari rumbia. Kehidupan ekonomi mereka dilakukan dengan mencari lokan yang harganya tak seberapa, memancing, dan ada juga yang numpang bertani.

 

“Mereka sangat ingin berubah dan hidup layak seperti  kita. Namun akses menuju mereka sangat sulit dijangkau. akan diupayakan ke pusat agar mereka masuk dalam KAT nasional,” harap Fakhrizal.

 

Demikian sedikit gambaran tentang PMKS yang menjadi fokus dari DIskessos Pelalawan. Untuk  menopang pelaksanaan tersebut, tahun 2014 ini akan dilakukan lima program strategis. Pertama melakukan penguatan Database sehingga terpetakan secara jelas PMKS tersebut.

 

Kedua Peningkatan Sumber Daya Manusia dan peran PMKS itu sendiri melalui kemitraan dengan pihak perusahaan yang ada di Pelalawan. Ketiga peningkatan sarana dan prasarana seperti baru-baru ini telah ada dua unit mobil untuk menjangkau desa korban bencana alam. Keempat koordinasi dengan SKPD terkait seperti penanganan kabut asap lalu dimana Diskessos bersama Badan Penanggulangan Bencana, Dinas kesehatan dengan membentuk tim terpadu. Terakhir Kelima adalah Peningkatan kepedulian dan kesetiakawanan yang menjadi unsur penting kegiatan sosial.

 

Dalam melakukan tugaspun, Diskessos selain  telah memiliki jajaran tingkat kecamatan dan desa, juga terdapat pihak terkait lainnya untuk mendukung berjalannya upaya meningkatkan kesejahteraan. Masih dalam Peraturan Menteri Sosial No. 8 tahun 2012 terdapat 12 Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS);
1.    Pekerja Sosial Profesional
2.    Pekerja Sosial Masyarakat (PSM)
3.    Taruna Siaga Bencana (Tagana)
4.    Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS)
5.    Karang Taruna
6.    Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3)
7.    Keluarga Pioner
8.    Wahana Kesejahteraan Sosial Keluarga Berbasi Masyarakat (WKSBM)
9.    Wanita Pemimpin Kesejahteraan Sosial
10.    Penyuluh Sosial
11.    Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK)
12.    Dunia Usaha

Dengan  adanya pemetaan fokus  PMKS dan PSKS diharapkan titik temu akan muncul dalam mewujudkan Pelalawan bebas kemiskinan dengan prinsip kemandirian sesuai dengan Rencana pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang telah dirancang Bupati Pelalawan hingga 2016.