Kuansing Riau Butuh Dana DAK Pusat

KUANSING RIAU BUTUH DAK PUSAT

Pemerintah Daerah Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau berharap kucuran dana alokasi khusus dari pemerintah pusat untuk mengatasi persoalan tebing runtuh dan irigasi di daerah.

 

"Kami sangat berhatarap tahun 2015 alokasi DAK ke Kuansing, karena APBD sangat minim untuk merealisasikan sejumlah kegiatan di Sumber Daya Air BMSDA setempat," kata Kepala Dinas Bina Marga Sumber Daya Air H Aswan di Teluk Kunatan, Jumat.

 

Ia mengatakan, luasnya areal tebing kritis membuat daerah mengalami kesulitan mengatasinya, bahkan tingkat longsor dan abrasi tinggi akibat hantaman sungai setiap tahun mengkhawatirkan penduduk.

 

Perhatian pemerintah pusat untuk mengucurkan Dana Alokasi Khusus  (DAK) untuk kegiatan tersebut dan program  irigasi di daerah, akan sangat dibanggakan oleh masyarakat,  karena program perbaikan dan mengatasi kritisnya tebing sudah sangat penting, sementara usulan permohohan itu telah di sampaikan setiap tahun.

 

"Kami juga berharap tahun 2015 sejumlah program di daerah dapat berjalan lancar, karena sejumlah objek wisata seperti arena Pacu jalur yang bakal di gelar setingkat ASEAN sangat perlu diperhatikan, selain itu arean kebun Nopi rawan longsor, butuh dana besar untuk kegiatan pembuatan  turap penahan tebingnya," sebutnya dengan berharap.

 

Kepala Bidang Sumber Daya Air BMSDA Kuansing H Erwan MSi juga mengatakan, permohonan untuk mendapatkan dana DAK tahun 2015 telah dikirim, dengan adanya berita ini diharapkan mampu menggugah pusat dan instansi terkait mengucurkan anggaran ke daerah.

 

Sejumlah titik tebing kritis perlu perhatian serius, sementara program irigasi juga membutuhkan anggaran besar karena setiap kecamatan irigasi dinilai menjadi perioritas untuk membantu usaha pertanian masyarakat.

 

"Irigasi untuk lahan persawahan, karena Kuansing akan menuju Swasembada pangan," ujarnya.
 

Kondisi Tebing Kritis Kuansing Riau, Program dan Solusinya

 

Pemerintah pusat menyebutkan bahwa ada  21 persen hutan Indonesia atau 40 juta hektare masuk dalam kategori kritis, kawasan hutan primer yang masih baik keadaannya sekitar 43 juta hektare atau sebesar 24 persen. Jumlah hutan sendiri saat ini mencapai 70 persen wilayah Indonesia atau sekitar 180 hektare.

 

Mencapai 45 juta hektare atau sekitar 25 persen, kondisinya separuh bagus separuh jelek, 40 juta hektare atau sekitar 21 persen adalah kawasan hutan yang sudah tidak ada hutannya lagi atau hutan kritis, lebih parah lagi sejumlah lahan kritis ada tebing kritis (berbagai sumber).

 

Dinas Kehutanan Provinsi Riau juga menjelaskan bahwa  hingga tahun 2001, diperkirakan luas hutan kritis mencapai 5.382.337 hektare dengan perincian 1.254.402 hektare di dalam kawasan hutan dan 4.127.935 di luar kawasan hutan.

 

Luas lahan kritis di luar kawasan hutan hampir merata di 11 kabupaten/kota di Riau, baik yang statusnya masih sangat kritis, kritis, agak kritis hingga potensial kritis. Hutan yang paling kritis berada di wilayah Kabupaten Inhil 834.068 hektare, Kampar 531.670 hektare, Bengkalis 472.473 hektare dan Rohil 454.825 hektare.

 

"Didalam lahan kritis banyak terdapat tebing kritis yang dapat dijadikan objek wisata seperti di Kuansing, hanya saja rawan longsor," sebut Erwan Staf BMSDA Kuansing.

 

Sedangkan di wilayah kabupaten terendah jumlah hutan kritisnya adalah Pekanbaru 37.150 hektare, Dumai 72.891 dan Kuansing 237.659 hektare. Hutan kritis tersebut ada yang statusnya sangat kritis, kritis, agak kritis dan potensial kritis, masing-masing status perlu penanganan yang berbeda, tergantung kadar kritisnya.

 

Mengalami run off menuju badan sungai dari pada terinfiltrasi ke dalam tanah untuk menambah volume air tanah aktual bagi pertumbuhan vegetasi hutan, tidak itu saja, hutan pada pulau kecil di Riau cendrung memiliki daerah tangkapan air (water catchment area) yang sempit sehingga jumlah air hujan yang jatuh dan tertampung pada suatu daerah tangkapan air selalu tidak seimbang terhadap laju kehilangan air tanah yang harus mengalir keluar melalui sungai dan evapotranspirasi.

 

Walaupun sebahagian besar kerusakan ekosistem pulau kecil disebabkan oleh alam (natural disasters) dan manusia (human destructions), namun, kerusakan hutan akibat gangguan alam tidak signifikan jika dibandingkan dengan kerusakan oleh aktivitas manusia. Secara umum, pulau-pulau kecil di Riau dihuni oleh masyarakat yang miskin.

 

Kemudian, faktor kerusakan hutan akibat pola tata guna lahan yang keliru, secara umum tren laju kerusakan hutan di hampir semua tempat adalah selalu mengikuti laju pertambahan penduduk dan laju peningkatan kebutuhan manusia.

 

Walaupun demikian secara alami pengaruh ini masih dapat diimbangi dengan kondisi musim, dimana pada saat musim hujan hampir semua pengaruh buruk dari laut terhadap tumbuhan yang ada di daratan pulau-pulau tersebut dapat teratasi melalui pencucian.

 

Agar tidak merasakan kehilangan hutan kita lebih jauh lagi, pemerintah daerah harus memiliki program prioritas pembangunan kehutanan untuk mengatasi hutan kritis dan kerusakan hutan di Riau melalui rehabilitasi hutan dan lahan, perlindungan konservasi sumber daya hutan serta program perencanaan dan pengembangan hutan.
 


Tebing kritis perlu perhatian Provinsi dan Pusat

 

Kondisi Tebing kritis yang dinilai sangat memperihatinkan di sejumlah kecamatan di Kuansing sudah selayaknya menjadi perharian serius semua pihak terutama pihak provinsi dan pusat.

 

Pengelolaan Tebing Kritis ini memerlukan anggaran besar, karena keterbatasan anggaran di daerah tentunya kucuran dana pusat sangat dibutuhkan oleh Pemerintah kabupaten Kuantan Singingi.

 

Sebagaimana diketahui bahwa, Kabupaten Kuantan Singigi dengan ibu kota Teluk Kuantan luas wilayah 7,656,03 km2, ketinggian 25-30m dpl sehingga tidak di pengaruhi oleh pasang surut air laut, pencemaran Air umumnya disebabkan oleh adanya masukan limbah kebadan sungai.

 

Setelah suatu kawasan di ekploitasi untuk di ambil emasnya,maka kawasan tersebut di tinggalkan begitu saja tanpa ada usaha reklamasi. Kegiatan  di lakukan di pinggir sungai  menyebabkan air sungai menjadi keruh sehingga tidak dapat di mamfaatkan oleh masyarakat sekitar.

 

Kabupaten Kuantan Singingi mempunyai potensi pertanian yang sangat besar untuk dikembangkan, daya dukung dan luas lahan yang besar, lebih dari setengah jumlah penduduk bekerja pada sektor pertanian, khususnya persawahan dengan ketrampilan dasar yang dimiliki, pasar yang tersedia dengan infrastruktur yang sedang digalakkan, merupakan modal dasar untuk pengembangan agribisnis.

 

Program irigasi yang dibuat oleh Dinas Bina Marga Sumber daya Air selama ini sangat tepat karena akan sangat membantu peningkatan funsi lahan persawahan, dengan dibangunnya sejumlah irigasi baru tentu mendukung program pemerintah daerah menjadikan wilayah ini sebagai swasembada pangan.

 

Data tanaman pangan meliputi luas panen dan hasil produksi tanaman bahan makanan, sayuran, dan buah-buahan, jika semua lahan kriti dapat difungsikan maka ekonomi masyarakat akan semakin membaik.

 

Potensi pertanian di Kabupaten Kuantan Singingi meliputi tanaman hortikultura dan palawija, antara lain:  Padi, Jagung, Kedelai, Umbi-umbian (ubi kayu, ubi jalar), Kacang-kacangan (kacang tanah, kacang hijau),  Sayur-sayuran: Kacang Panjang, Cabe, Tomat, Ketimun, Terung, Kangkung, Bayam dan lain-lain,  Buah-buahan: Pisang, Durian, Alpukat, Langsat, Mangga, Jambu (biji/air), Rambutan, Nenas, Belimbing, Jeruk.

 

Luas Lahan Pertanian Sawah (m2) per Kecamatan : Kuantan Mudik (3.141), Kuantan Tengah (2.849), Benai (2.980), Kuantan Hilir (5.242), Cerenti (2.329).

 

Luas Lahan Pertanian Ladang (m2) per Kecamatan : Kuantan Mudik (1.000), Singingi (850), Kuantan Tengah (148), Benai (1.860), Kuantan Hilir (369), Cerenti (437).

 

Contohnya, Ibukota Kecamatan Kuantan Tengah : Taluk Kuantan dengan luas wilayah : 291,74 km2 atau sekitar 3,81% dari keseluruhan luas Kabupaten Kuantan Singingi.  Wilayah administratif terdiri dari : 2 Kelurahan dan 21 Desa.  Ibukota Kecamatan Kuantan Tengah ketinggian tanah 25-30 meter diatas permukaan air laut.

 

Aspek Geologi Tata Lingkungan : Morfologi dataran hingga bergelombang lemah, elevasi 3 – 4o, berada pada zona batuan rapuh, patahan dengan arah N320oE-N325oE dibagian Tenggara, Longsor berpotensi terjadi pada tebing sungai, rekahan pada zona patahan, banjir, erosi dan abrasi pantai sungai. Sebagai instansi yang menangani persoalan tebing krits agar tidak terjadi dampak abrasi, erosi dan longsong tentunya sejumlah program perioritas di upayakan seteiap tahun.

 

"Kami telah berupaya optimal, sesuai  dengan kemampuan daerah, secara bertahap sejumlah tebing di berikan turap, namun sangat berharap kucuran dana pusat," kata Kepala Dinas Bina Marga Sumber Daya Air Kabupaten Kuantan Singingi H Aswan di Teluk Kuantan.

 

Ia mengatakan, kondisi tebing kritis sangat memperihatinkan, namun sejumlah upaya telah di lakukan, objek wisata juga brada di areal tebing kritis, jika terlambat di buatkan penahan tebingnya maka kedepan akan hancur.

 

Aspek Hidrogeologi : Aliran Permukaan berupa Sungai Kuantan, Sungai Bawang, Batang Pantai dan aliran permukaan rawan dibagian selatan, Air tanah dalam (ground water) diperkirakan cadangannya sebesar 25 juta m3 pertahun (bagian tengah cekungan teluk kuantan. ( Dari berbagai sumber).
 


Berharap Perhatian Provinsi

 

Sungai Kuansing adalah sungai terbesar di Kuantan Singingi, sungai ini berhulu di Provinsi Sumatra Barat dan melewati beberapa kabupaten di Provinsi Riau, akibat banyaknya sungai, wilayah ini menjadi langganan banjir dan abrasi karena itu perlu penangan khusus seperti pembangunan sejumlah turap penahan tebing.

 

Banyak kawasan pemukiman disepanjang aliran sungai Kuantan itu terancam karena dasyatnya abrasi yang terjadi, bahkan sejumlah rumah dan tanaman warga abruk masuk ke sungai.

 

Pemerintah Daerah Kuansing meminta agar anggaran untuk pembangunan turap di daerah aliran Sungai Kuatan dianggarkan oleh Balai Sungai Sumatra, jika perhatian provisi tinggi maka kedepan persoalan yang ada dapat teratasi dengan baik.

 

"Kita telah usulkan anggaran ini pada Provinsi dan pemerintah pusat melalui Balai Sungai Sumatra. Kita berharap ada anggaran untuk membangun tarup di daerah abrasi yang mengancam rumah rumah masyarakat disepanjang DAS Kuantan," kata Erwan salah satu pejabat Dinas BMSDA Kuantan Singingi.

 

Menurutnya, kalau dianggarkan kepada APBD Kuansing, tentunya anggaran tidak akan cukup. Lagi pula yang punya wewenang memberi anggaran adalah provinsi atau pemerintah pusat, sesuai aturan, anggaran untuk abrasi Sungai Kuantan ini yang punya wewenang adalah provinsi atau pemerintah pusat.

 

Pembangunan turap untuk mengantisipasi abrasi tebing Sungai Kuantan itu adalah tanggung jawab Provinsi Riau melalui dana APBD Riau, sebab sungai ini melalui tiga kabupaten.

 

"Kami berharap kasus abrasi yang melanda tebing sepanjang DAS Sungai Kuantan ini cepat menjadi perhatian serius pemerintah Provinsi Riau, Kami mohon perhatian serius untuk kepentingan masyarakat," sebutnya.

 

Salah satu yang terparah akibat abrasi yang berada di sekitar Jembatan Lubuk Jambi, arena rayon pacu jalur dan kebun nopy, karena dampak dari abrasi bisa  mengancam warga dan runtuhnya arena objek wisata tersebut.
 

KUANSING MINTA ANGGARAN PUSAT TAHUN 2015

 

Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi menaruh harapan besar kepada pemerintah provisi dan pusat mulai tahun 2015 mengucurkan anggaran khusus terhadap pembangunan irigasi di daerah Kuansing.

 

Harapan khususnya kembali diberikan Dana Alokasi Khusus yang dapat digunakan untuk berbagai program penanggulangan irigasi, antisipasi bahaya banjir, pengelolaan lahan kritis, dimana selama ini menjadi perhatian khusus pemerintah daerah.

 

"Kuansing adalah rawan banjir, lahan pertanian banyak yang terendam, hancur jika datang bulan hujan, hingga terbak masyarakatpun terganggu," kata kepala Bidang Irigasi Dinas Bina Marga Sumber Daya Air Erwan di Teluk Kuantan.

 

Ia menjelaskan, aliran sungai kuantan hampir seluruhnya berada di litas jalan sumatra, jika areal  tepi sungai tidak diberikan penynggah berupa turap maka beberapa tahun kedepan sejumlah pinggiran sungai terkikis, longsor, abrasi hingga mengakibatkan keresahan penduduk.

 

Kemampuan anggaran APBD II Kuansing belum mampu untuk mengatasi problem tersebut, hingga berharap banyak adanya perhatian serius dari pihak provinsi untuk mengucurkan anggran ke daerah.

 

Selama ini program irigasi berjalan baik, irigasi yang dibangun untuk membantu masyarakat petani yang memiliki lahan persawahan, bahkan irigasi juga untuk mengrangi dampak kekeringan.

 

"Daerah irigasi sesuai data yang ada mencapai 49 luasnya mencapai delapan ribuan hektar," sebutnya.

 

Pembangunan turap di sepanjang irigasi dan sungai kuantan dan beberapa tempat strategis sangat penting, contohnya turap di kebun nopi yang dinilai masih perlu ditingkatkan karen area ini adalah area pacu dayung untuk iven daerah dan nasional.

 

Jika masih terbengkalai karena keterbatasan dana maka laokasi ini bakan runtuh hingga dapat merugkan daerah, selain arena ini adalah salah satu objek wisata lokal bagi masyarakat setempat.

 

Begitu juga areal taman jalur perlu peningkatan turap agar arena ini bisa lebih tahan dan indah, sejumlah tribun perlu di tingkatkan, karena area ini dijakan lokasi pembukaan dan pergelaran pacu jalur yang sudah menjadi ivent nasional.
  

Realisasi Kegiatan 100 Persen

 

Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi  tahun 2014 telah merealisasikan 38 paket kegiatan di bidang Sumber Daya Air (SDA)  semua telah berjalan baik dan lancar, realisasi seratus persen.

 

"Tahun 2014 semua kegiatan selesai seratus persen," kata Kepala Dinas Bina Marga Sumber Daya Air Kuansing H Aswan melalui Erwan salah satu stafnya.

 

Ia mengatakan, komitmen semua pihak untuk menyelesaikan kegiatan tepat waktu sesuai dengan standar perlu diberikan apresiasi tinggi, pihak rekanan serius untuk menyelesaikan pekerjaannya.

 

Bupati Kuantan Singingi H Sukarmis menyebutkan bahwa, dimasa kepemimpinannya diharapkan semua program berjalan dengan baik, dengan realisasi kegiatan khusus irigasi tentu akan sangat membantu masyarakat.

 

Pembangunan turap disejumlah lokasi vitas harus di utamakan, selain itu peningkatan irigasi untuk lahan pertanian menjadi program perioritas untuk mensejahterakan warga, dengan demikian lahan persawahan akan dapat berfungsi dengan baik.



KUANSING BANGUN IRIGASI BARU

 

Pemerintah Daerah Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau akan membangun sarana irigasi baru untuk kebutuhan persawahan seluas 1.500 hektar agar panen petani didaerah semakin besar.

 

"Irigasi merupakan sarana pendukung kegiatan pertanian, jika irigasi baik maka hasil panen akan meningkat," kata Kepala Dinas Tanaman Pangan  Kuantan Singingi (Kuansing), Maisir di Teluk Kuantan, Sabtu.

 

Ia mengatakan, program tahun 2015 ini diyakini akan berjalan maksimal, areal pertanian yang memerlukan aliran irigasi sangat tinggi, bahkan diperkirakan akan semakin meningkat setiap tahun jika lahan kritis di daerah dapat di kelola dengan baik.

 

Kegiatan perbaikan irigasi merupakan bagian dari peningkatan sarana dan sarana pertanian, rehab sarana irigasi dengan cakupan luas sawah 1.500 hektare berada di daerah Petapahan Kecamatan Gunung Toar, Pauh Angit Kecamatan Pangean, Rawah Sawah, Baserah II Kecamatan Kuantan Hilir, dan Tanjung Medan Kecamatan Cerenti.

 

"Selain itu juga ada program memperbaiki saluran dan pintu air yang rusak serta bangunan saluran tersier yang dinilai sangat penting, sementara untuk pekerjaannya dilaksanakan langsung oleh kelompok tani," ujarnya.

 

Menurutnya, kegiatan irigasi ada di instansi terkait yakni pengawasan dan pembinaan dilakukan Dinas Tanaman Pangan (Distan) dan Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kuansing sebagai pengelola kegiatan.

 

"Bangunan irigasi yanga da saat ini di Kuansing berjumlah 22 unit dengan kemampuan mengairi sawah 4.806 hektare dan masih ada sawah tadah hujan sekitar 5.385 hektare dan jika ada bantuan Pusat untuk pengelolaan lahan kritis maka luas areal persawah akan semakin besar," terangnya.

 

Program peningkatan produksi padi tahun 2015 berupa bantuan sarana produksi seperti pupuk dan benih dari dana APBN melalui Gerakan Pengembangan Tanaman Terpadu (GBPTT) seluas 1.000 hektare yang dialokasikan di Kecamatan Kuantan Tengah, Sentajo Raya dan sebagian Gunung Toar.

 

"Distan juga memperoleh bantuan dari Pemprov Riau melalui dana APBD I seluas 750 hektare yang dialokasikan di Kecamatan Cerenti, Inuman, Kuantan Hilir dan Pangean," ujarnya.