Pemkot Dumai Dorong Budaya Hidup Bersih Sehat

Dumai, Riau, (Antarariau.com) - Pemerintah Kota Dumai melalui Dinas Kesehatan Kota Dumai Riau mendorong masyarakat budayakan perilaku hidup bersih dan sehat dengan cara promotif dan preventif guna mewujudkan visi Dumai Sehat 2015 dan masyarakat sehat, mandiri, hidup produktif secara sosial dan ekonomi.
 
Wali Kota Dumai Khairul Anwar menyebutkan, tercapainya kualitas kesehatan manusia harus dimulai dari pribadi seseorang, dengan cara membiasakan hidup sehat dan bersih dalam kehidupan sehari-hari.
 
Disamping itu, terus mengupayakan lingkungan rumah dan masyarakat sekitar tetap asri, bersih, sehat dan terjaga dengan menggiatkan pembersihan dan gotong royong secara bersama supaya bebas dari kuman sumber penyakit.
 
"Hidup harus dibiasakan sehat dan bersih supaya kualitas kesehatan terus terjaga serta mampu menekan angka kesakitan di daerah ini, karena itu kita terus mendorong masyarakat agar selalu membudayakan perilaku bersih dan sehat," katanya.
 
Hal ini, lanjut dia, sejalan dengan visi Dumai Sehat yakni mewujudkan Kota Dumai bersih, semarak, rukun dan indah (Berseri) di Kawasan Pantai Timur Sumatera sebagai penggerak kemajuan ekonomi dan budaya melayu yang agamis menuju Dumai Kota sejahtera, harmonis, aman dan tertib (Sehat) pada 2015.
 
Selain itu, masyarakat harus mampu melakukan upaya pencegahan gangguan kesehatan dengan pola hidup sehat, asupan gizi dan meningkatkan kebersihan lingkungan serta menghindari perilaku negatif.
 
Menyelenggarakan kesehatan masyarakat yang berkualitas, mandiri dan  hidup produktif secara sosial dan ekonomi merupakan urusan wajib pemerintah sebagai pelayan publik, namun tentu saja harus didukung dan diterapkan sepenuhnya oleh semua elemen.
 
Secara khusus penyelenggaraan pelayanan kesehatan ini dijalankan oleh instani Dinas Kesehatan yang berwenang melaksanakan desentralisasi di bidang kesehatan berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Dumai nomor 16 tahun 2013 tentang organisasi dan tata kerja dinas daerah dipimpin seorang kepala dinas yang bertanggungjawab dan bertugas membantu walikota.
 
"Tidak akan terselenggara kesehatan yang berkualitas mandiri dan produktif jika masyarakat belum menerapkan hidup sehat di kehidupan sehari-hari, karena itu upaya pemerintah akan terus mengajak semua pihak terlibat dalam peningkatan derajat kesehatan ini," terangnya.
 
Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Dumai Paisal menerangkan, dalam rangka mewujudkan tujuan pembangunan di bidang kesehatan, telah diprogramkan kegiatan pemantapan manajemen kesehatan dinamis dan akuntabel, mendorong pembangunan yang berwawasan kesehatan.
 
Kemudian, program yang menjadi misi Diskes ini juga membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat melalui upaya promotif dan preventif, pemerataan pelayanan kesehatan yang bermutu, terjangkau, berkeadilan dan meningkatkan kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan.
 
Pola hidup sehat, menurutnya, akan diterapkan juga untuk mendukung program jaminan kesehatan nasional (JKN) bagi masyarakat penerima, dengan cara mensyaratkan mereka harus giat membersihkan lingkungan rumah sendiri agar terhindar dari sumber penyakit.
 
Diskes, lanjut dia, akan melakukan survei dan evaluasi kebersihan lingkungan masyarakat penerima apakah sudah menerapkan pola hidup sehat atau malas menjaga kesehatan.
 
Ini supaya di lingkungan rumah masyarakat penerima tidak ada wadah tempat hidup berkembang sumber penyakit, seperti jentik nyamuk penyebab demam berdarah dan malaria serta tidak sampah yang berserakan.
 
"Warga penerima JKN jika masih malas membiasakan hidup bersih dan sehat di lingkungan rumah sendiri maka akan dievaluasi kepesertaannya, karena upaya peningkatan kualitas kesehatan ini djalankan pemerintah untuk kepentingan publik umum," jelasnya.
 
Dalam kinerja 2015 ini, Diskes akan melakukan gerakan sebar bubuk abate gratis ke semua rumah warga dengan melibatkan kader Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Posyandu dan dukungan aparat TNI setempat.
 
Kegiatan ini merupakan strategi dalam rangka meningkatkan pemberdayaan masyarakat dan swasta dalam pembangunan kesehatan melalui kerjasama lintas sektor, meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata, terjangkau, bermutu dengan pengutamaan pada upaya promotif-preventif.
 
Selanjutnya, meningkatkan pengembangan dan pemberdayaan SDM kesehatan yang merata dan bermutu, meningkatkan manajemen kesehatan yang akuntabel, transparan, berdayaguna dan berhasilguna untuk memantapkan desentralisasi kesehatan yang bertanggungjawab.
 
Pihaknya bertekad mewujudkan Dumai Sehat 2015 dengan indikator menurunkan angka kematian, kesakitan, meningkatkan status gizi balita dengan gizi buruk dan gizi kurang.
 
Kemudian, standar pelayanan minimal (SPM) dengan pelayanan kesehatan dasar, kesehatan rujukan, penyelidikan epidemiologi dan penanggulangan kejadian luar biasa, promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat dan Millenium Development Goals (MDGs) bidang kesehatan.
 
Dinas Kesehatan Dumai mencatat, pencapaian indikator kinerja angka kematian bayi, pada 2014 ditemukan sebanyak 103 kasus dari 7.875 kelahiran hidup, artinya, di Dumai sebesar 13,08 per 1.000 kelahiran hidup, dan dibanding 2013 lalu sebesar 14,70 per 1.000 kelahiran hidup, maka pada 2014 mengalami penurunan.
 
Namun bila dibandingkan dengan target indikator Kota Dumai tahun 2014 yakni dibawah 23 per 1.000 kelahiran hidup, maka pencapaian angka kematian bayi di Kota Dumai masih di bawah target.
 
Jumlah kasus kematian bayi terbanyak berada di Kecamatan Dumai Selatan yakni sebanyak 24 kasus, disusul dengan Kecamatan Dumai Timur sebanyak 22 kasus, dengan penyebab didominasi kasus Asfiksia dan berat badan lahir.
 
Kemudian, indikator angka kematian balita pada 2014 jumlah kasus ditemukan di Kota Dumai sebanyak 125 kasus atau sebesar 15,87 per 1.000 kelahiran hidup, dibandingkan 2013 sebesar 16,90 per 1.000 kelahiran hidup, maka ada penurunan.
 
Namun jika dibanding dengan target indikator Dumai 2014 yakni dibawah 32 per 1.000 kelahiran hidup, maka pencapaian masih di bawah target.
 
Kasus kematian balita ini terbanyak berada di Kecamatan Dumai Selatan yakni sebanyak 28 kasus, disusul Dumai Timur 27 kasus, dengan penyebab didominasi berat badan lahir rendah (BBLR) dan Asfiksia.
 
Sedangkan, hingga akhir 2014, jumlah kumulatif kasus HIV yang dijumpai di Dumai sebanyak 289 kasus, terdiri dari 240 kasus lama dan 49 kasus baru yang ditemukan tahun 2014.
 
Penderita HIV yang meninggal sebanyak 153 orang dengan jumlah beresiko HIV sebanyak 32.719 orang, sehingga prevalensi penderita HIV terhadap penduduk beresiko pada 2014 adalah 0,42 persen.
 
Sementara, untuk angka kesakitan demam berdarah dengue (DBD), Dumai merupakan daerah endemis Demam Berdarah Dengue (DBD), sebab pada 2014 ditemukan 264 kasus dengan kematian sebanyak 1 kasus.
 
Jika dibanding 2013 dengan 173 kasus, maka ada peningkatan angka kesakitan demam berdarah dengue pada 2014. Untuk itu diperlukan kerja keras untuk bisa mencapai target angka kesakitan DBD tahun 2015 yakni sebesar 51 per 100.000 penduduk.
 
Tingginya angka kesakitan DBD disebabkan oleh faktor perilaku, lingkungan dan sosial ekonomi masyarakat yang masih mendukung sebagai tempat berkembang biaknya nyamuk dengan 80 persen penduduk masih menggunakan bak penampung air hujan (PAH) dalam memenuhi kebutuhan air bersih.
 
Berdasarkan kecamatan, jumlah kasus DBD terbanyak ditemukan di Kecamatan Dumai Timur yakni sebanyak 85 kasus, disusul dengan Kecamatan Dumai Selatan sebanyak 54 kasus.
(hms/adv/abdul razak)