Investor Jepang Kagumi Pengolahan Biourine Kampar

id , investor jepang, kagumi pengolahan, biourine kampar

Pekanbaru, (Antarariau.com) - Kalangan investor dari Jepang datang berkunjung ke Kabupaten Kampar Provinsi Riau dan mengagumi program pengelolaan biourine dari kotoran sapi yang diterapkan pemerintah setempat.

"Ini kemajuan bagi Kampar," kata Bupati Kampar Jefry Noer kepada pers di Siak Hulu, Kampar, Senin siang.

Rombongan investor dari Jepang datang ke Kampar kata dia untuk rencana investasi (tidak disebutkan sektor investasinya) dan kali ini juga mengunjungi Program Rumah Tangga Mandiri Pangan dan Energi (RTMPE) yang dibuat Pemda Kampar untuk mengatasi masalah kemiskinan, pengangguran dan rumah kumuh.

"Program ini bukan merupakan program yang melangit, melainkan membumi sehingga akan membuat masyarakat miskin menjadi kaya raya," katanya.

Jefry Noer mengatakan, invesot dari Jepang sebelumnya pada Sabtu (3/10) berkunjung ke Kampar saat ada panen bawang merah untuk pembibitan di lahan percontohan RTMPE di Kubang Jaya, Kecamatan Siak Hulu.

"Ini merupakan panen kesekian kali dilahan RTMPE ini, kali ini bawang yang diurus pak Ondang yang kita panen," kata dia.

Kepala Dinas Pertanian Kampar Hendri Dunan mengatakan, RTMPE merupakan program yang sangat baik bagi rumah tangga, karena tidak hanya ramah lingkungan, namun juga mampu membuat keluarga miskin menjadi kaya raya.

"Di lahan 220 meter persegi milik pak Ondang ini ditanami dengan benih 25 kg bawang, dengan hasil panen keseluruhan mencapai 448 kg dengan masa tanam selama 55 hari. Ini tentu sangat menguntungkan di tengah melemahnya perekonomian nasional," kata dia.

Jefry Noer kembali menjelaskan, bahwa program RTMPE ini merupakan program untuk mewujudkan kemandirian pangan yang dijalankan Pemkab Kampar tahun ini.

Selain pengelolaan limbah sapi menjadi biourine dan pupuk cair serta pupuk berat, pada lahan seluas 1.000 hingga 1.500 meter persegi itu masyarakat juga dianjurkan memelihara ayam petelur, budidaya ikan lele serta tanaman sayuran seperti cabai keriting dan bawang merah.

"Selain bawang merah hasilnya yang cukup menjanjikan, dikawasan lahan RTMPE ini masyarakat juga diajarkan untuk menanam cabai merah dengan hasil yang juga menjanjikan," katanya.

Belum lagi, lanjut dia, hasil kotoran sapi seperti biourine, pupuk cair dan pupuk padat yang nilainya juga sangat dahsyat, bisa mencapai Rp10 juta.

"Ditambah lagi hasil telur dari 100 ekor ayam alphu dan daging ayam yang juga sangat menjanjikan," kata Jefry.

Program RTMPE sebelumnya juga telah dilirik oleh Malaysia yang akan menyediakan dana Rp10 miliar untuk kompensasi penerapan program itu di negara tersebut.

"Bisa jadi Jepang juga akan menerapkan program ini di sana," katanya.