Gubernur: Program Ketahanan Pangan Riau Belum Optimal

Pekanbaru,  (Antarariau.com) - Pemerintah Provinsi Riau mengakui gagal menjaga ketahan pangan daerahnya hingga akhir tahun 2015 ini karena maish tergantung dengan provinsi tetangga bahkan dari Pulau Jawa memenuhi kebutuhan seperti beras.

"Riau belum bisa menjaga ketahanan pangan, masih tergantung dengan provinsi tetangga dan Jawa khususnya untuk beras. Baru bisa penuhi sekitar 55 atau 60 persen yang dibutuhkan," kata Pelaksana Tugas Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman di Pekanbaru, Kamis.

Dia mengatakan pihaknya melalui satuan kerja terkait telah berusaha membangun pertanian dengan berbagai program, tapi tetap belum mampu. Bahkan juga telah bekerjasama dengan Tentara Nasional Indonesia, tapi tak bisa juga maksimal dan ke depan dirinya berjanji akan meningkatkannnya lagi.

"Sebenarnya Riau sangat ingin berpartisipasi mewujudkan ketahanan pangan nasional, tapi tak terkejar juga," tambahnya lagi.

Menurut dia, gagalnya ketahanan pangan dicapai mungkin dikarenakan masih tingginya alih fungsi lahan dari sawah ke komoditas lain. Ditambah masyarakat masih mengganggap komoditas lain itu menggiurkan sehingga ini juga berpengaruh pada swasembada pangan Riau.

Sebagai langkah lebih lanjut, pihaknya menginginkan agar regional tengah Pulau Sumatera seperti Jambi dan Sumatera Barat untuk duduk bersama membahas hal ini. Seperti halnya beras untuk Riau banyak didatangkan dari Sumatera Barat.  
    
"Ini agar Sumbar tidak terganggu, karena alih fungsi lahannya juga tinggi. Jadi perlu dibicarakan supaya suatu saat tidak kewalahan," ujarnya.

Hal tersebut disampaikannya pada saat rapat koordinasi dengan Badan Ketahan Pangan Kementrian Pertanian RI dan dari Riau sendiri. Kegiatan itu juga sekaligus memperingati hari pangan sedunia di Riau dan juga meningkatkan kecintaan terhadap pangan lokal.

Kepada Badan Ketahanan Pangan dia meminta akses kepada masyarakat harus dipermudah dan melakukan pengembangan baru di sektor pertanian. Dia juga menawarkan pengembangan sagu dimana di provinsi setempat memiliki luas dan produksi terbesar di Indonesia. (Adv)