ASITA: Riau Harus Manfaatkan Maskapai Internasional Bawa Turis Asing Datang

Pekanbaru, (Antarariau.com) - Asosiasi Perjalanan dan Wisata Indonesia (ASITA) Riau mengungkapkan, pemerintah provinsi (pemrov) harus dapat memanfaatkan keberadaan empat maskapai rute internasional agar mampu bertahan dengan membawa turis asing kunjungi berbagai destinasi wisata.
        
"Pemerintah daerah seperti pemprov, harus bisa manfaatkan maskapai. Ini tentu mereka harus sinergi dengan bisnis di sektor pariwisata," papar Ketua ASITA Riau, Ibnu Masud di Pekanbaru, Senin.
        
Ibnu berujar, trennya saat ini penumpang penerbangan langsung dari Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru untuk ketiga rute internasional dengan dilayani empat maskapai masih sangat minim.
        
Tercatat maskapai AirAsia melayani rute Kuala Lumpur-Pekanbaru pergi pulang satu kali sehari, lalu Malindo Air rute Malaka-Pekanbaru lima kali dalam sepekan dan Silk Air serta Jetstar Asia masing-masing tiga kali dalam satu pekan di hari yang berbeda.
        
"Tidak bisa swasta saja. Kalau swasta atau pebisnis, dia pasti akan terus berjuang. Kalau pemerintah provinsi bersikap lengah, maka hilang juga satu pesawat nanti seperti Firefly," katanya.
        
Dia contohkan, seperti operasional Silk Air. Dimana maskapai itu gembira karena bisa membawa penumpang untuk melakukan perjalanan umrah ke Jeddah, Arab Saui setelah transit di Singapura.
        
Otomatis selama tujuh bulan musim umrah selama satu tahun, maskapai tersebut penuh terisi membawa penumpang umrah dari Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru.
        
"(Travel) saya ngisi tujuh kali dalam satu bulan, belum lagi travel umrah lain. Ini kalau maskapai kompetitor (Jetstar Asia) tidak pandai, dua atau tiga bulan out (berhenti operasi) karena penumpang dari Pekanbaru sedikit," ucap dia.
        
Selain itu, beber Ibnu, Jetstar Asia harus bisa datang turis asing untuk mengunjungi destinasi wisata seperti bagi peselancar menikmati ombak Bono di Kabupaten Pelalawan.
        
"Ombak Bono, itu targetnya harus dibantu Jetstar ini. Tapi jangan maskapai saja, pemerintah daerah juga harus bantu agar penerbangan pergi pulang maskapai itu terisi," katanya, lagi.
        
Kepala Penjualan Jetstar Asia, Francis Loi saat melakukan penerbangan perdana akhir tahun lalu mengatakan, sebagai satu-satunya penerbangan ekonomis maskapai menggunakan konsep berbiaya murah dengan menjalin kerjasama perusahaan travel di Pekanbaru.
        
"Jadwal kami pada hari kerja memungkinkan melakukan perjalanan tiba di Singapura pada siang hari dan bisa memanfaatkan waktu lakukan pertemuan sebelum melanjutkan perjalanan ke kota-kota di Asia Tenggara," ucapnya.
        
Operasinal maskapai itu di Indonesia kini terdapat pada enam kota seperti Medan, Surabaya, Jakarta, Denpasar, Palembang dan terakhir "Kota Bertuah", julukan bagi Pekanbaru.
        
"Kita ada sekitar 80 unit agen travel sudah dijalin kerjasama dan kami terbagi Singapura-Pekanbaru pada setiap hari ini (Kamis), lalu Minggu dan Selasa," kata Country Manager Jetstar Indonesia, Helmawan Sumiko.