BBM Turun Tapi Langka Di Sumbar, Ini Pengaruhnya Bagi Riau

Pekanbaru, (Antarariau.com) - Belasan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Sumatera Barat (Sumbar) mengalami kekosongan bahan bakar minyak setelah pemerintah menurunkan harga premium menjadi Rp7.050 per liter dan solar Rp5.750 per liter mulai Selasa (5/1).

"Ada sekitar 11 unit SPBU kosong, mulai dari Padang sampai Payakumbuh. Jadi kendaraan kami belum terisi premium sejak pagi tadi," ujar salah seorang warga, Frislidia (45) melalui sambungan telepon genggam dari Pekanbaru, Rabu.

 Frislidia mengaku sedang menuju Kota Pekanbaru, Provinsi Riau setelah menghabiskan waktu liburan Tahun Baru 2016 dengan berjumpa keluarga besar Kota Padang, Sumbar.

 Sepanjang perjalanan dari Padang menuju Payakumbuh berjarak sekitar 120 kilometer, jelas dia, terlihat sejumlah SPBU kosong atau tanpa disertai antrean kendaraan bermotor dan disertai papan atau plank bertuliskan permohonan maaf karena premium atau solar habis.

 Dirinya mengaku kesal melihat kondisi belasan SPBU berada jalan di lintas Sumbar-Riau mengalami kekosongan penjualan kepada yang sangat membutuhkan bahan bakar minyak.

 Menurutnya PT Pertamina (Persero) selaku operator bahan bakar minyak di Indonesia, telah melakukan langkah untuk mengantisipasi terhadap pemberlakuan kebijakan pemerintah tersebut.

"Hendaknya Pertamina jangan seperti ini. Kasihan warga, pulang liburan tahun baru dari Sumbar terutama ke Provinsi Riau terpaksa beli premium dari pedangang eceran karena tidak tersedia di SPBU," katanya.

Itulah salah satu pengaruh BBM langka di Sumbar. Itu baru untuk warga yang liburan, belum lagi sektor ekonomi. Seperti diketahui provinsi tetangga itu memasok kebutuhan makanan masyarakat Pekanbaru seperti komoditas pertanian dan peternakan.

Jika BBM sulit didapatkan tentu harganya di tempat non SPBU tinggi dan mempengaruhi biaya operasional. Jika tidak mendapatkan bahan bakar apalagi, komoditas itu takkan sampai dan cadangan yang ada di Riau tinggal sedikit tentu harga akan naik.

Telepon genggam Kepala Pertamina (Persero) Pemasaran Wilayah Sumbar-Riau, Ardyan Adhitia ketika dihubungi dua kali pada pukul 13.21 tidak aktif dan pesan singkat yang dikirim, hingga berita ini diturunkan, belum dibalas.

Sehari sebelumnya atau pada Selasa (5/1), bahan bakar minyak di sejumlah SPBU di Kota Padang, Sumatra Barat terpantau mengalami kekosongan baik premium, pertamax dan pertalite.

Kondisi tersebut berbeda dengan yang dialami pada 147 unit SPBU di Provinsi Riau tidak terlihat kekosongan atau antrean panjang untuk mendapatkan ketiga jenis bahan bakar minyak yang dipasarkan.

 Pemerintah melalui Menteri ESDM Sudirman Said telah mengumumkan penurunan harga BBM jenis Premium dan solar yang mulai berlaku pada Selasa (5/12) ini. Dalam rencana semula, harga Premium non-Jawa-Madura-Bali (Jamali) turun dari Rp7.300 menjadi Rp7.150 per liter.

 Sedangkan, harga solar turun menjadi Rp5.950 dari harga Rp6.900 per liter. Harga baru itu sudah mencakupi pungutan dana ketahanan energi sebesar Rp200 per liter. Namun dengan pembatalan pungutan tersebut, harga jual premium dan solar kembali berubah.

 Bahan bakar minyak jenis premium akan dipasarkan dengan harga Rp6.950 per liter untuk Jamali dan Rp7.050 per liter untuk non-Jamali. Sedangkan bahan bakar minyak solar akan dijual dengan harga Rp5.750 per liter.

loading...