Pekanbaru, (Antarariau.com) - Krisis ekonomi dunia yang melanda tahun lalu diperkirakan masih akan berlanjut tahun 2016 ini. Kondisi "/>

Percepatan Penggunaan APBD Pekanbaru 2016 Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Pekanbaru, (Antarariau.com) - Krisis ekonomi dunia yang melanda tahun lalu diperkirakan masih akan berlanjut tahun 2016 ini. Kondisi ini bahkan  telah berpengaruh kepada pertumbuhan ekonomi Provinsi Riau dan  Kota Pekanbaru, khususnya.
    
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, Mawardi Arsyad, menyebutkan, perekonomian Riau yang diukur berdasarkan Produk Domestrik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku triwulan III tahun 2015 mencapai Rp 167,42 triliun sementara atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 114,23 triliun.
    
Dijelaskannya, ekonomi Riau triwulan III tahun 2015 terhadap triwulan sebelumnya tumbuh sebesar 4,68 persen, dari disi produksi, pertumbuhan disebabkan lapangan usaha jasa pendidikan yang tumbuh 6,95 persen.
   
Sedangkan dari sisi pengeluaran lebih disebabkan pertumbuhan komponen pengeluaran konsumsi pemerintah sebesar 8,8 persen.
   
"Ekonomi Riau pada triwulan III tahun 2015 terhadap triwulan III tahun 2014 lalu mengalami kontraksi atau penurunan sebesar 1,87 persen.   Melambat dibanding periode yang sama tahun 2014 sebesar 2,67 persen.
   
Dari sisi produksi, perlambatan tertinggi dicapai lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan minus 9,37 persen.
   
"Sedangkan dari sisi pengeluaran ekonomi alami pertumbuhan akibat bertumbuhnya komponen pengeluaran konsumsi pemerintah sebesar 7,82 persen," urainya.
   
Secara parsial, pertumbuhan ekonomi tertinggi terjadi pada triwulan III tahun 2015, untuk Pulau Sumatera dicapai Provinsi Riau sebesar 4,68 persen.
    
Dia menambahkan, struktur PDRB Riau menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku pada triwulan III tahun 2015, masih didominasi lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian sebesar 30,45 persen, diikuti industri pengolahan sebesar 24,16 persen dan pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 22,28 persen.
   
"Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Riau triwulan III tahun 2015, Industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar yaitu 1,94 persen (dengan laju pertumbuhan 6,93 persen), diikuti pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 1,28 persen ( dengan laju pertumbuhan 5,33 persen), dan perdagangan besar dan eceran dan reparasi mobil sebesar 0,40 persen (dengan laju pertumbuhan 4,66 persen)," ungkapnya.
   
Ditempat yang berbeda Bank Indonesia (BI) Kantor Wilayah Provinsi Riau, menganalisa kondisi ekonomi Riau tahun ini masih masih akan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dunia, dimana harga komoditas yang cenderung turun membuat ekspor Riau menurun. Daya beli masyaraka melemah.
   
Namun BI berharap Riau akan tetap bisa bertumbuh walau tidak sebesar waktu lalu melalui konsumsi pemerintah.
   
Penggelontoran dana pemerintah sebagai salah satunya cara merangsang geliat ekonomi.
   
"Karena lewat dana pemerintah ini beberpa proyek pengadaan barang dan jasa akan mendorong perputaran ekonomi dimasyarakat," ungkap Kepala Kantor BI wilayah Provinsi Riau, Ismed Inono.
    
Maka dari itu Ia menghimbau, pemerintah daerah kabupaten/kota mampu melakukan percepatan penggunaan keuangan pemerintah.
  
"Penggunaan APBD kabupaten/kota secepatnya bisa merangsang perputaran ekonomi Riau," ungkapnya.
   
Menindaklanjuti hal tersebut, Wali Kota Pekanbaru, Firdaus, juga mengakui upaya percepatan penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)  Kota Pekanbaru tahun 2016.
   
Firdaus bahkan pada awal tahun 2016 ini langsung menggelar rapat koordinasi yang dihadiri semua SKPD Pekanbaru.
   
Dalam rapat tersebut, Firdaus meminta semua Satuan Kerja Perangkat Daerah dilingkungannya agar melakukan percepat penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) setempat tahun 2016, guna merangsang pertumbuhan ekonomi.
   
"Dalam kondisi resesi saat ini kapital pemerintah dibutuhkan menjadi stimulus," ungkap Firdaus,
   
Firdaus, mengakui, krisis ekonomi dunia yang sudah berlangsung tahun lalu masih akan terus mempengaruhi ekonomi negara-negara dia Asia, termasuk Indonesia, apalagi Riau dan Pekanbaru yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan Singapura.
   
"Resesi ini belum akan berakhir, bahkan tahun mungkin lebih parah, karena itu Pekanbaru sebagai kota jasa dan perdagangan harus kuat dan mampu menghadapi itu," ujarnya.
   
Diakui Firdaus, pemerintah daerah memiliki dana terbatas. Tetapi sangat berperan khususnya dalam hal penggunaan keuangan pemerintah yang sudah dianggarkan untuk pembangunan fasilitas publik dan infrastruktur lainnya.
   
"Makanya rapat tadi antara kepala daerah dan semua SKPD sebagai ajang evaluasi," terangnya.
   
Lebih jauh Firdaus menyebutkan, dalam rapat pihaknya membahas apa-apa yang baik dan buruk ditahun lalu.
   
"Yang baik harus dipertahankan kalau perlu ditingkatkan pada tahun 2016. Sementara yang buruk harus diperbaiki," bebernya.
   
Firdaus juga menekankan kepada semua pejabat hingga staf di semua SKPD agar lebih bekerja keras pada tahun 2016 ini untuk meningkatkan pelayanan dimasyarakat. Hal ini jelas erat dengan percepatan realisasi penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
   
"Saya pesankan dana pemerintah harus segera diturunkan untuk merealisasikan kegiatan-kegiatan," ujarnya.
   
Sehingga dengan demikian, roda perekonomian Pekanbaru segera berputar. Investasi bisa masuk dan kesejahteraan masyarakat tertolong.
   
"Dana pemerintah adalah senjata membantu percepatan ekonomi," tutur Firdaus.
   
Ia juga mengingatkan bidang pengurusan segala macam perijinan, dan pajak agar memberikan kemudahan dan inovasi agar merangsang investor menanamkan modalnya di Pekanbaru.
   
"Saya sudah perintahkan SKPD terkait melakukan evaluasi perijinan yang menghambat investasi," pungkasnya.
   
Sekedar informasi, besaran APBD Pekanbaru tahun 2016 disetujui DPRD Rp3,1 triliun.
   
Dibandingkan nilai APBD tahun 2015 yang mencapai Rp3,3 T, ada penurunan sekitar Rp13 miliar.
(adv)