Pekanbaru, (Antarariau.com) - Pemerintah dinilai belum serius membenahi cagar budaya nasional yang terdapat di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, "/>
PTPNV

Candi Muara Takus Terlihat Hanya Batu Melulu, Pemerintah Belum Serius

Pekanbaru, (Antarariau.com) - Pemerintah dinilai belum serius membenahi cagar budaya nasional yang terdapat di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, seperti infrastuktur jalan menuju salah satu destinasi objek pariwisata dan peninggalan sejarah masa lalu.
         
"Kalau kita berjalan ke destinasi wisata Candi Muara Takus, maka kita lihat hanya batu melulu. Sampai sekarang, baik pemerintah provinsi atau kabupaten belum serius membenahi," kata Asosiasi Perjalanan dan Wisata Indonesia (ASITA) Riau Ibnu Masud di Pekanbaru, Rabu.
         
Sampai saat ini, lanjut Ibnu, terutama pemerintah provinsi belum fokus dalam membenahinya berbagai destinasi wisata di Riau termasuk Candi Muara Takus, padahal potensi untuk mengembangkan daerah tersebut sebagai wisata sangat besar.
         
Candi Muara Takus terletak di Desa Muara Takus, Kecamatan Tigabelas Koto Kampar merupakan peninggalan sejarah masa lalu dan berjarak dari Kota Pekanbaru sekitar 128 kilo meter menuju ke arah Provinsi Sumatera Barat.
         
Hamparan danau Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Koto Panjang membentang di sisi kanan atau kiri jembatan yang terbuat dari baja dan memanjakan mata memandang sebelum memasuki jalan kecil menuju arah kanan jalan.
         
Pengunjung akan melewati Desa Tanjung Alai, Gulamo, Batu Bersurat dan Koto Tuo. Candi itupun mulai terlihat di tengah jalan yang ditempuh beberapa bagiannya dalam kondisi rusak parah.
         
"Candi Muara Takus merupakan candi Buddha, terlihat dari adanya stupa berlambang Buddha Gautama. Candi ini berukuran 32,80 meter kali 21,80 meter, tapi kini sepi dari pengunjung," katanya.
         
Ibnu mengatakan bukan hanya jalan yang harus dibenahi untuk mendatangkan lebih banyak wisatawan domestik dan turis asing berkunjung ke berbagai destinasi wisata di Tiau.
         
Pemerintah provinsi juga harus memikirkan perkembangan ekonomi kreatif di daerah objek wisata tersebut dan harus fokus.
         
Saat ini pemerintah provinsi tengah menggarap puluhan objek wisata air terjun. Tapi objek wisata air terjun itu, susah untuk dijangkau pengunjung karena terletak jauh berada di dalam hutan.
         
"Pemerintah terkesan tak serius dan perekonomian kecil sulit berkembang dari objek wisata air terjun. Saat ini pemprov harus  mengembangkan ekonomi kreatif melalui pariwisata," ujarnya.
         
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Riau, Fahmizal, mengklaim tahun lalu jumlah pengunjung di Cagar Budaya Candi Muara Takus per bulan berkisar antara 1.000 sampai 3.000 orang
    
"Candi ini, merupakan candi tua. Bahkan lebih tua dari Candi Borobudur. Banyak biksu dari mancanegara datang ke tempat ini," terangnya.