Empat Desa Terisolir di Kampar, Pemprov Riau Bantu Tambah Beras

Pekanbaru, (Antarariau.com) - Pemerintah Provinsi Riau menyatakan akan menambah bantuan bantuan beras bagi empat desa terisolir karena banjir dan longsor di Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar melalui dinas sosial setempat.
     
"Pemprov melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah kita sudah coba bantu masyarakat makanan termasuk beras. Kalau memang kondisi sekarang ini beras masih kurang kita minta dinsos menindaklanjuti," kata Pelaksana Tugas Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman di Pekanbaru, Rabu.
     
Lebih lanjut Pria yang akrab disapa Andi Rachman ini menyatakan telah melakukan rapat koordinasi dengan BPBD dan Dinsos Riau terkait hal itu. Kepala desa daerah terisolir itu, kata dia, telah ditemui dan meminta alat berat dan disarankan mintanya ke kabupaten.

Dia juga membantah dikatakan BPBD tidak membantu lagi karena sedang proses persiapan pencegahan kebakaran hutan dan lahan. BPBD, lanjut dia, sudah mengerahkan helikopter untuk penanggulangan bencana longsor itu.
     
"Cuma saat ini helikopter sudah ditarik dan sedang mencarikan alternatif lain," ujarnya.

Terkait pembangunan akses jalan lain menuju empat desa tersebut, dia mengaku belum bisa mengambil tindakan langsung. Hal itu karena harus melihat segala aspek dulu seperti potensi ekonomi dan status kawasan tersebut.
     
Empat desa di Kabupaten Kampar itu yakni Desa Lubuk Bigau, Kebun Tinggi, Pangkalan Kapas dan Tanjung Permai. Tingginya curah hujan menimbulkan tanah longsor pada akhir November 2015 sehingga terisolir akibat infrastruktur jalan dan jembatan tertimbun.
     
"Akses jalan tertimbun longsor, dan jembatan juga tertimbun dan rusak. Longsor sebenarnya sudah terjadi sejak  29 November 2015, tapi belum ada upaya memperbaikinya sehingga sudah dua bulan kami masih terisolir," kata tokoh pemuda Desa Lubuk Bigau, Ari Kaharmon ketika dihubungi Antara dari Pekanbaru, Selasa.
     
Dampak dari longsor tersebut, lanjutnya, membuat warga kesulitan menuju kota terdekat. Ia mengatakan menjadi kesulitan untuk mendapat pasokan bahan pangan serta bahan bakar minyak. Harga bensin premium di daerah itu kini mencapai Rp18 ribu per liter, jauh dari harga normal di SPBU yang mencapai Rp7.300 per liter.
     
"Harga beras juga jadi sangat mahal jadi Rp30 ribu per kilogram, padahal biasanya paling mahal sekitar Rp14 ribu per kilogram," keluhnya.***4***