Hanya Dalam Dua Pekan, 32 Kasus DBD Ditemukan di Kuansing

Kuantan Singingi, (Antarariau.com) - Dinas Kesehatan Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau sudah menemukan 32 kasus demam berdarah dengue (DBD) di sejumlah wilayah setempat awal 2016.
         
"Hanya dalam dua minggu saja telah ditemukan cukup banyak penderita penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk aedes aegypti itu," kata Kepala Dinas Kesehatan Kuantan Singingi Reza Tjahyadi di Teluk Kuantan, Sabtu.
         
Faktor utama yang menyebabkan terjadinya gejala penyakit tersebut adalah perubahan iklim dimana saat ini musim penghujan mulai melanda sejumlah wilayah Kuansing, selain kurangnya kebersihan lingkungan rumah hingga banyak nyamuk berkeliaran.
         
Adanya kasus DBD itu telah mendorongnya untuk mengingatkan orang tua agar tetap waspada bahkan diminta untuk menjaga kebersihan lingkungan secara terus - menerus.
         
"Upaya untuk mencegah lebih baik dari pada mengobati," sebutnya.
         
Kepala Bidang PMK Dinas Kesehatan Kuansing Detri Elvira menyebutkan, pada 2015 terdapat 286 kasus DBD dan tahun 2014 ada 45 kasus dengan satu kasus meninggal dunia, sementara tahun 2016 baru bulan Januari sudah mencapai 32 kasus.
         
"Tentunya hal ini harus dapat diminimalisir kedepannya agar tidak berdampak luas," ujarnya.
         
Menurutnya, masyarakat hendaknya mengenali gejala DBD dan lakukan gerakan 3M Plus yang jauh lebih efektif dibanding penyemprotan agar penyakit itu tidak meluas.
         
Adapun gerakan 3M Plus yang dimaksud Detri yakni menguras, menutup dan mengubur serta menggunakan obat anti nyamuk dan lebih baik penggunaan anti nyamuk dilakukan pada pukul 09.00 - 11.00 WIB dan jika pada sore sebaiknya pada pukul 15.00 - 17.00 WIB.
         
Cara ini dinilai lebih praktis dan efisien serta efeknya tidak terlalu besar dibandingkan menggunakan cara foging.
         
Detri juga mengimbau seluruh masyarakat, jika sudah mulai ada gejala DBD sebaiknya segera berobat ke rumah sakit terdekat sebelum galajanya semakin buruk, karena DBD bisa menyebabkan kematian jika dibiarkan.
         
"Dinkes selalu siap melakukan berbagai sosialisasi terkait gejala DBD, namun lebih optimalnya jika dibantu oleh warga," ucapnya.