Terus-terusan Dibom Rusia, ISIS Mulai Arahkan Senjata ke Israel

Jakarta (Antarariau.com) - Ketidakmampuan ISIS mempertahankan cengkeramannya di Suriah karena ofensif Angkatan Udara Rusia memunculkan kemungkinan mereka menggeser taktik dengan menyerang Israel dan Yordania, kata Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel Letnan Jenderal Gadi Eizenkotthe seperti dilaporkan laman RT.com.

Setelah terus-terusan dibom Rusia, ISIS terpaksa mencari cara baru dengan meneror perbatasan utara Suriah dengan Israel dan Yordania, kata Eizenkot dalam konferensi di Universitas Tel Aviv.

"Di Suriah, keberhasilan grup teror ini tertahan. Keberhasilan melawan ISIS dalam pandangan saya meningkatkan kemungkinan mereka mengarahkan senjata mereka kepada kita (Israel) dan Yordania," kata Eizenkot dalam laman RT.com.

Karena kehadiran ISIS di perbatasan selatan Suriah terbatas, maka kemungkinan mereka akan beraliansi dengan kelompok-kelompok lain yang beroperasi di daerah ini.

Israel rupanya khawatir ISIS akan beraliansi dengan kelompok-kelompok perlawanan di Palestina.

Israel juga mengkhawatirkan radikalisme ISIS akan masuk ke wilayahnya karena sekitar 50 orang warga negaranya yang berketurunan Arab telah pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS dan kelompok-kelompok sejenisnya.

Israel khawatir puluhan warganya yang pergi ke Suriah itu kembali ke Israel dan akan menjadi tantangan tersendiri bagi pihak berwajib di dalam negeri.

Bahkan, menurut laman RT.com, Presiden Israel Reuven Rivlin sudah memperingatkan bahwa sel-sel ISIS sudah beroperasi di dalam negara Israel.

Tidak seperti warga Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza yang tidak memiliki paspor Israel, 1,4 juta penduduk Israel keturunan Arab adalah 30 persen total penduduk Israel. Mereka ini bebas bepergian ke luar negeri dan bebas bergerak di dalam negeri Israel.

"ISIS sudah di sini, sudah bukan rahasia lagi. Saya tidak berbicara mengenai wilayah-wilayah yang berbatasan dengan Negara Israel, tetapi di dalam negeri ini sendiri," kata Reuven Rivlin.