Jakarta, (Antarariau.com) - Media cetak tidak perlu takut dengan inovasi di dunia jurnalistik yang menyebabkan terjadinya pergeseran minat "/>

Diskusi Inikah Senjakala Media Cetak? Ini Ulasannya

Jakarta, (Antarariau.com) - Media cetak tidak perlu takut dengan inovasi di dunia jurnalistik yang menyebabkan terjadinya pergeseran minat pembaca ke media digital, kata peneliti senior Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) Ignatius Haryanto.
        
"Memang pada dasarnya dunia jurnalistik penuh inovasi, kenapa harus takut dengan inovasi. Krisis justru akan menemukan jati diri sebenarnya, jangan takut tapi gunakan untuk mencari jawaban," kata Haryanto dalam sebuah diskusi bertajuk "Inikah Senjakala Media Cetak?" yang digelar di Jakarta, Selasa.
        
Diskusi tersebut diinisiasi oleh LSPP menanggapi gelombang penutupan media cetak yang terjadi di dunia jurnalistik. Salah satu contohnya adalah harian Sinar Harapan yang pada 31 Desember 2015 menerbitkan edisi terakhirnya.
        
Haryanto menyebutkan ada beberapa faktor penyebab surat kabar merosot, di antaranya perkembangan teknologi digital, pertumbuhan ekonomi melambat sehingga pemasukan dari iklan berkurang, kebiasaan membaca yang bergeser ke gawai, dan generasi muda belum terbentuk menjadi pembaca masa depan.
        
Namun, secara pribadi Haryanto optimistis bahwa media cetak masih bisa bertahan berpuluh-puluh tahun dari sekarang. Dia juga mengatakan bahwa hasil riset menyebutkan bahwa porsi iklan di media cetak masih terbilang cukup tinggi dari segi kuantitas dibandingkan dengan media berbasis internet (daring).
        
Media daring jurnalistik di Indonesia memperoleh porsi iklan sekitar Rp600-750 miliar pada 2012 menurut marketing.co.id. Angka tersebut masih kalah dibandingkan dengan porsi iklan yang diperoleh media cetak dan televisi dalam satu tahun.
        
Selain itu, dia juga berpendapat bahwa media cetak sudah pernah mampu melewati "ancaman" dari media televisi yang mulai populer di Indonesia pada akhir 1980-an.
        
"Kemunculan televisi membuat koran tampil berwarna, tampilan foto lebih besar dan mencolok. Budaya visual memengaruhi tampilan media cetak," kata Haryanto.
        
Menurut dia, hal yang diperlukan oleh pihak media cetak adalah kecerdasan untuk mengemas aneka medium yang berbeda-beda dan punya kemampuan yang lebih banyak untuk medium-medium yang digunakan. "Dengan tetap mengedepankan empati dan "conscience"," kata Haryanto.
        
Sementara itu, wartawan senior harian Kompas Bre Redana mengakui bahwa media cetak memang sedang mengalami masa senja kala, namun dia berpendapat bahwa media cetak tidak akan pernah hilang digantikan oleh teknologi yang lebih baru.
        
"Hanya akan ada transformasi bentuk yang seperti apa saya belum tahu," ucap dia. Bre mengatakan bahwa ada hal yang tidak bisa digantikan dari tradisi literer yang telah dimunculkan oleh media cetak.
        
"Barang cetak berhubungan dengan soal kesadaran. Membaca tinta di atas kertas berbeda dengan membaca piksel dari layar yang menyala. Membaca tinta terjadi proses menenggelamkan diri atau immersion, sedangkan membaca digital melompat dari satu subjek ke subjek lain," kata dia.
        
Redaktur senior Sinar Harapan Aristides Katoppo berpendapat perlu adanya riset yang mendalam mengenai dinamika jurnalistik cetak di Indonesia. "Perlu pemberian makna, mengapa generasi muda kurang tertarik dengan jurnalistik yang beretika," ucap dia.
        
Salah satu tokoh yang pernah kembali menerbitkan koran Sinar Harapan di bawah naungan PT Sinar Harapan Persada itu juga optimistis dengan kelangsungan media cetak di Indonesia yang menurutnya sangat tergantung dengan kualitas wartawannya.
        
"Selama wartawan masih punya pemikiran yang cerah, maka masa depan media cetak juga masih akan ada harapan," kata pria yang akrab disapa Tides tersebut.