Melancong ke Benteng Suku Sakai Bagian Dua, Jepang Hingga Pagaruyung

Pekanbaru, (Antarariau.com) - Suku Sakai merupakan salah satu suku asli di Provinsi Riau yang menyebar  di sejumlah kabupaten, yaitu  Bengkalis, Kampar, Indragiri hulu, serta Siak yang totalnya ada 13 bathin. Permukiman warga Sakai terbanyak berada di wilayah Desa Kesumbo Ampai, yakni mencapai sekitar 300 kepala keluarga. Bathin M. Yatim sendiri merupakan pimpinan dari delapan Bathin Suku Sakai yang ada di Kabupaten Bengkalis.
    
Suku Sakai termasuk dalam suku Melayu (proto) Melayu, dan Bathin Yatim menyatakan garis keturunan mereka erat kekerabatannya dengan Kerajaan Pagaruyung di Provinsi Sumatera Barat.Nenek moyang mereka bereksodus ke wilayah Sumatera bagian tengah pada 600 tahun lalu, ketika Kerajaan Pagaruyung berkecamuk perang besar.
     
Karena itu, tidak mengherankan apabila bahasa Sakai dan beberapa budayanya seperti pencak silat dan bentuk atap bangunan adat, sangat identik dengan tradisi Minangkabau. Bahkan, pimpinan adat seperti sultan dan datuk dari Kerajaan Pagaruyung juga hadir pada peresmian rumah adat Suku Sakai di Desa Kesumbo Ampai.  
     
Lalu, apabila Sakai sebenarnya adalah para perantau dari tanah Minang, mengapa di Riau mereka dipanggil Sakai?
    
Bathin Yatim menceritakan kisah yang diwariskan turun-temurun mengenai asal nama Sakai. Orang-orang tua Sakai percaya nama tersebut merupakan pemberian dari orang Jepang saat menjajah Nusantara selama tiga tahun sejak 1942.
    
Menurut dia, masyarakat adat tersebut termasuk yang ditakuti oleh tentara Jepang karena kekuatannya. Masyarakat adat tersebut justru terus melawan Jepang, dan seringkali para penjajah kerepotan melawan orang kebathinan karena ilmu gaib yang mereka miliki.

Karena itu, pihak penjajah tidak berani memaksa mereka untuk ikut kerja paksa atau "Romusha".
        
"Ada kisah, saat masyarakat kebathinan ditembak oleh Jepang, namun tidak mati. Tapi itu bukan berarti kita tahan tembak, tapi bisa jadi orang Jepangnya tidak tepat untuk menembak sebab ada juga suku kebathinan yang tewas akibat samurai (pedang) Jepang," kata Bathin Yatim.
    
Mungkin karena kebingungan untuk menyebut lawan kuatnya, lanjut Bathin Yatim, maka Jepang memanggil masyarakat kebathinan dengan Sakai yang konon karena bentuk fisik mereka mirip dengan orang Sakai di Jepang. Cerita Bathin Yatim kemungkinan besar terkait dengan Klan Sakai yang merupakan samurai terkuat pada zaman Kekaisaran Tokugawa abad ke-14.
    
"Sakai itu berasal dari orang-orang  Jepang yang artinya kuat tahan banting dan sejenisnya. Itulah kenapa alat-alat berat buatan Jepang ada merek Sakai," katanya.
    
"Lalu peneliti ada yang mengaitkan Sakai adalah singkatan dari kata-kata Sungai, Air, Kampung, Anak dan Ikan. Katanya itu menggambarkan kehidupan kami, jadi ya itu tidak jadi masalah juga buat kami," lanjut Bathin Yatim.
    
Ia berharap rumah adat baru itu bisa mengukuhkan kembali identitas Suku Sakai, karena itu bangunan utama juga digunakan seperti museum yang berisikan sejarah Sakai tempo dulu. Peninggalan keris pusaka Sakai tersimpan rapi di dalam kotak kaca di sudut ruangan itu. Selain itu, ada juga alat musik tradisional, perlengkapan hidup seperti kapak perimbas, tombak, parang, keranjang anyaman rotan (ago), lentera (pelito dama) hingga pakaian dari kulit kayu yang dahulu digunakan nenek moyang mereka.
    
Pada dinding kayunnya dipenuhi dengan penjelasan tentang silsilah 13 bathin Suku Sakai yang tersebar di Kabupaten Bengkalis dan Siak. Kemudian ada foto rumah adat yang lama, foto hitam putih tentang orang Sakai zaman dulu yang menggunakan baju dari kulit kayu, serta peta wilayah adat Sakai yang dibuat oleh orang Belanda.
    
"Peta wilayah adat Sakai ini saya dapatkan dari mahasiswa Belanda yang meneliti Suku Sakai di sini. Ternyata orang Belanda pada masa penjajahan membuat petanya dan disimpan di museum di Leiden, Belanda," kata Bathin Yatim.

Bersambung...

 

Baca Juga : Melancong ke Benteng Suku Sakai; Bagian Satu