Sudahkah Keluarga Berperan Dalam Pendidikan?

Pekanbaru, (Antarariau.com) - Salah satu aspek keberhasilan pendidikan seorang anak ada pada keluarga. Keluarga merupakan lembaga pertama dalam pembangunan karakter seorang anak. keluarga merupakan lingkungan pertama dimana seorang anak tumbuh kembang dari sisi emosi, spritual, intelegensi, serta belajar berbagai karakter dicontohkan oleh individu yang ada pada lingungan tersebut. Seorang anak akan dapat meraih karir yang hebat di masa depannya apabila memiliki dasar keluarga yang mendukung dan mengarahkan anak dalam meraih cita-citanya.
 
Banyak orang-orang hebat di dunia ini dilahirkan dari keluarga biasa-biasa saja namun menjadi orang luar biasa kontribusinya karena memiliki keluarga yang peduli terhadap pendidikan. Hal ini bisa dilihat dan dicermati dari biografi tokoh yang memberikan kontribusi di negeri ini. Beliau terlahir tidak dengan begitu saja, mereka dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga yang saling membantu dalam hal pendidikan. Meskipun sebagian berasal dari keluarga yang lemah secara ekonomi, namun hal tersebut tidak mematahkan semangat untuk kehidupan yang jauh lebih baik.

Dengan demikian boleh disebut salah satu lembaga yang berperan dalam mencetak pemimpin masa depan dan sumber daya manusia yang handal yaitu keluarga. Jika Sinergitas dan sinkronisasi antara lembaga keluarga dan sekolah terjalin dengan baik dalam mendidik anak, maka tujuan pendidikan itu pada akhirnya akan tercapai.

Lebih lanjut kita dapat belajar dari keluarga berbagai tokoh  di Indonesia. Berbagai pengakuan mereka berikan baik itu di media masa, ataupun buku  yang pada intinya keberhasilan diraih tidak terlepas dari do’a, usaha, dorongan dari dalam diri (motivasi intrinsik) dan dukungan keluarga terutama kedua orang tua yang peduli terhadap pendidikan.

 Tokoh ini berkiprah berbagai bidang karir mulai dari Presiden, Walikota, Pengusaha, Mentri, Presenter Televisi, Rektor, Jendral, dan lain sebagainya. Misalnya Pengusaha Chairul Tanjung dalam buku biografinya (Tjahja : 2012) dikatakan bahwa orang tuanya sangat tegas dalam mendidik anak-anaknya, orang tuanya berprinsip agar bisa keluar dari jerat kemiskinan, pendidikan merupakan langkah yang harus ditempuh dengan segala upaya.  Lebih lanjut dalam bukunya beliau menceritakan bahwa dengan genangan air mata , ibu menatap mata saya dengan tajam  sambil menepuk pundak dan berbicara “ Chairul, uang kuliah pertamamu yang ibu berikan beberapa hari yang lalu ibu dapatkan dari menggadaikan kain halus ibu, belajar yang serius nak”. Jelas sekali kita lihat dukungan orang tua, perhatian, kasih sayang  dengan senantiasa mengingatkan anak memiliki daya yang luar biasa dalam menunjang kesuksesan seorang anak.

Hal ini ditegaskan lagi oleh BJ. Habibie (Fachmy : 2014), menurutnya karakter terbentuk dalam proses pembudayaan yang dibina oleh keluarga pada umunya, khususnya ibu, oleh karena itu ibu mesti dibekali kemampuan dan kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan dalam membesarkan anak sejak lahir sampai dengan selesai pendidikan sesuai karakter, bakat, dan pembawaanya untuk menjadi terampil, produktif dan bertanggung jawab. Penulis melihat dari pernyataan tersebut bahwasanya  educational parenting sangat diperlukan utuk para orang tua dan calon orang tua agar dapat mendidik anaknya dengan cara baik dan benar, mestinya ini ada program khusus dari pemerintah ataupun sekolah dalam mengedukasi orang tua dan para calon orang tua yang akan membesarkan calon generasi penerus bangsa agar menjadi sumber daya manusia yang handal yang dapat memberikan sumbangsih dalam kemajuan bangsa.

Kemudian berlanjut ke tokoh muda Ridwan Kamil yang menempuh pendidikan sampai ke luar negeri Program Master Urban Design di University Of California, Barkeley, dan mendapat berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri. Beliau diacara talk show di salah satu TV swasta dengan mata yang berkaca-kaca bercerita tentang kedua orang tuanya.

Dari ungkapan tersebut tersirat bahwa keluarga berperan dalam pembentukan kharakter dan pencapaiaan karir sampai saat ini.  Beliau bercerita tentang hal yang patut yang  dicontoh dari almarhum ayahnya, Beliau mengungkapkan bahwa ayahnya  mengajarkan kesederhanaan, mengajarkan integritas, hal ini dilihatnya ketika ada mahasiswa datang untuk bimbingan, dan mencoba merayu ayahnya dengan berbagai cara untuk mendapatkan nilai baik, dengan tegas ayahnya menolak.

Kemudian mengenai kepemimpinan ia mengungkapkan bahwa inspirasi menjadi wali kota adalah ketika mengingat nasehat yang diberikan ibunya yang selalu dikumandangkan, “sebaik-baik manusia itu ialah yang bisa memberi manfaat bagi orang lain” saya kira tidak di dengar ternyata disimak, ungkap ibunya dalam acara tersebut.

Menurutnya sosok ibu bersama keluarga merupakan sumber energi hidupnya, “doa ibu saya adalah doa yang melindungi saya”. Jadi berbagai pemimpin di negeri ini mengungkapakan bahwa orang tua berperan dalam pendidikan mereka sampai mencapai karir yang gemilang. Orang tua selalu mengingatkan, mencontohkan karakter yang baik kepada anaknya.

Dengan demikian hal tersebut membuktikan bahwa apa yang disampaikan oleh orang tua berupa komunikasi verbal maupun non verbal itu terekam panjang oleh seorang anak walaupun kelihatannya tidak mendengar, namun sebetulnya apapun yang menjadi atensi (proses mental berupa perhatian terhadap sesuatu) seseorang akan terekam dalam memori jangka panjang anak.

Sejalan dengan hal tersebut tokoh berikutnya merupakan salah satu ulama  Ustads Yusuf Mansur seperti ditulis sahabat-sahabatnya "Ustadz Always be there for the family", tidak ada alasan untuk meninggalkan keluarganya karena sibuk. Lebih lanjut dituliskan bahwa Hj. Humrifah, ibu dari ustads menyatakan bahwa beliau membesarkan anaknya dengan Sholawat. do’a dan cinta, meskipun anaknya sempat 2 kali dipenjara karena belitan urusan bisnis, namun ibu Uum tak pernah berhenti mendoakan kebaikan bagi anaknya (Anwar Sani Dkk: 2013).

Oleh karena itu do’a dan kasih sayang orang tua akan mengantarkan anak pada keberhasilan hidup meskipun berbagai persoalan hidup dialami,  namun orang tua tidak boleh menyerah dalam mendidik dan mendoakan anaknya dalam bentuk perhatian dan kasih sayang sehingga ada perubahan perilaku.

Disisi lain Prof. Dr. Komaruddin Hidayat menyatakan bahwa menurutnya orang tua yang saat ini tergolong sukses, pasti dimasa lalunya pernah mengalami pertarungan berat untuk mengalahkan berbagai himpitan dan tantangan hidup. Namun sangat disayangkan banyak orang tua justru memasung anak-anaknya. Mereka seolah-olah memberikan madu, padahal racunlah yang selalu disuapkan kepada anak-anaknya. Hanya dengan pengalaman dan bekerja keras dan mampu mengatasi kesulitan, seorang anak tumbuh menjadi kuat.

Selanjutnya beliau menuliskan dalam bukunya bahwa Karier seseorang yang Autentik dan kukuh hanya akan mudah diraih kalau basis keluarga solid, Kekuatan keluarga dibangun dengan hubungan cinta dan iman. Hal ini banyak kita amati dalam masyarakat bahwasanya anak yang dikeluhkan oleh orang tua bermasalah, sering membuat onar, padahal faktor utamanya bersumber dari polah asuh orang tua selalu memanjakan. Apapun keinginan anak selalu diberikan sehingga tanpa disadari orang tua telah mengajarkan menjadi anak-anak yang minim daya juangnya, konsumtif,  pembangkang dan lain sebagainya.

Setelah diperhatikan dari berbagai kisah  diatas tentang keluarga, maka peran keluarga penting dalam keberhasilan pendidikan anak. Keluarga berpengaruh dalam pembentukan karakter seorang anak. Anak belajar segala hal dari keluarga. Orang tua tidak boleh mengabaikan anaknya. Penulis memperhatikan sebagian remaja yang bermasalah setelah ditelusuri memiliki basic keluarga yang bermasalah seperti broken home, kurangnya contoh yang baik dalam keluarga, dan kurangnya panutan dalam hidup. Hidup tumbuh dan berkembang dengan sendirinya tanpa arah, dan pada akhirnya terjadi penyimpangan perilaku.

Kemudian anak-anak sering merasa tidak nyaman di dalam rumah karena orang tua selalu ribut, aksi egoisme yang memperlihat kekerasan fisik dan psikis, tidak adanya suri tauladan yang baik dalam rumah menyebabkan berbagai permasalahan dalam perkembangan remaja. Hal ini secara tidak langsung akan berdampak buruk dalam perkembangan psikis anak. Pondasi dasar dalam pembangunan karakter anak tersebut dapat dilihat dari panutannya yaitu orang tua.  Itulah sebabnya perlunya penguatan peran keluarga dalam pendidikan.

Melalui pendidikan seseorang mempunyai harapan untuk mengubah perilaku (akhlak), cara berfikir dan nasibnya. Karena Tuhan menjanjikan akan mengangkat derajat orang yang berilmu beberapa derajat. Dengan ilmu dapat menyelesaikan permasalahan yang ada pada bangsa ini. Berbagai hal yang dapat dilakukan dalam penguatan pendidikan dalam keluarga adalah sebagi berikut.

Pertama memperhatikan pola asuh dalam keluarga. Polah asuh menurut ahli ada berbagai macam yaitu otoriter (mengharuskan), protektif (melindungi), dan pola asuh yang permisif (membebaskan anak berbuat apapun sesuai dengan keinginannya). Polah asuh yang terbaik adalah memberikan contoh ataupun suri tauladan yang baik terhadap anak (Rachman: 2016). Mari kita contoh dari dari Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan dan segala bentuk akhlaknya dalam mendidik keluarganya. Lebih lanjut Anak akan berperilaku dan terbangun karakter positif melalui contoh yang baik yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Setiap proses pembelajaran yang berharga akan dipelajari anak melalui perilaku individu yang ada di rumah. Setiap anak akan mencontoh apa yang dilihat, didengarkan dan dipelajari dari keluarganya.

Kedua Pembangunan karakter positif sebagai pondasi dasarnya ada pada orang tua sebagai role modelling seperti karakter jujur, tanggung jawab, sopan dan santun, bertutur kata yang baik, kerja keras, pantang menyerah/ tidak mudah putus asa, memiliki jiwa saing yang sehat, sportifitas, daya juang yang tinggi dalam mengarungi kehidupan. Karakter ini dapat dibudayakan dalam keluarga. Hal ini memang kelihatan sederhana namun ini dapat memiliki efek yang besar pada saat terjadi degradasi moral saat ini. Jika kita telisik orang tua dahulu memang tidak sampai sekolah tinggi-tinggi namun kok bisa  mendidik anak-anaknya menjadi orang hebat, saya yakin beliau telah mencontohkan terlebih dahulu integritas dan karakter yang baru didengungkan hari ini.

Ketiga perkembangan spritual anak dapat dilatih dengan pembudayaan kebiasaan-kebiasan religi yang baik dalam keluarga seperti sholat tepat waktu, mengaji, nasehat diwaktu dirumah tentang agama dsb. Hal yang menjadi permasalahan yaitu boro-boro anak mau sholat sedangkan orang tua tidak sholat. Sifat hedonisme yang selalu ditunjukkan akan memberikan kebahagiaan semu ataupun kegersangan, namun kebahagiaan yang hakiki akan di dapat jika berjalan pada koridor agama. Kemudian kecerdasan emosi dapat diperlihatkan dengan kematangan emosi orang tua dengan  tidak banyak menunjukan emosi negatif.

Emosi yang baik mestilah diperlihatkan alam wujud kasih sayang, cinta, perhatian, iman dan taqwa kepada Allah SWT. Keluarga yang dibangun dengan cinta, iman dan kasih sayang akan mampu menjadi kekuatan juga untuk negeri ini
Keempat orang tua dengan jeli memahami potensi yang dimiliki seorang anak.

Pada dasarnya seorang anak itu memiliki potensi kebaikan. Menurut Howard Gardner dalam karyanya menyatakan bahwa manusia ini memiliki sembilan kecerdasan.  Kecerdasan tersebut yaitu kecerdasan interpersonal, intrapersonal, linguistik, kinestetik, visual spasial, logis-matematik dan natural.  Kecerdasan bukanlah sesuatu yang bersifat tetap, namun bersifat tersembunyi, terpendam, tidak kelihatan, namun mempunyai potensi untuk muncul.

Sembilan kecerdasan tersebut apabila orang tua dapat melihat dengan jeli bakat anak, hal ini akan menjadi salah satu aspek keberhasilan anak. Mesti dipahami bahwa manusia itu merupakan mahluk yang unik dari segala hal.  Di dalam diri seseorang tersimpan bakat (talent) yang luar bisa, jika di optimalkan akan mampu merubah wajah dunia dimasa kini dan akan datang. Berbagai penemuan (invention) akan teknologi yang ada pada zaman sekarang itu belum seberapa jika potensi yang dimiliki manusia dioptimalkan, maka kita kedepannya akan melihat jauh teknologi lebih canggih. Nah orang tua mesti jeli melihat talenta seorang anak,  jika kita telisik sejarah, Thomas Alva Edison misalnya (penemu lampu) yang dianggap stupid oleh teman-temanya, jika orang tuanya tidak sigap mendampingi anaknya dalam pendidikan mungkin dunia tidak akan terang seperti saat sekarang ini.

Setiap orang punya bakat yang luar biasa untuk menemukan karya hebat. Maka oleh karena itu hal ini perlu kerjasama dengan pihak sekolah dalam konseling  agar potensi yang tersembunyi dan terpendam yang luar biasa dapat berkembang dengan baik.
Kelima keluarga mesti menjadi tempat berlindung dan kembali / pulang yang nyaman.  Orang tua harus menciptakan suasana yang kondusif dalam keluarga, anak tenang dan nyaman berada di rumah, sehingga terhindar dari aksi keluyuran tidak tentu arah. Di keluraga anak dapat reinforcement apabila melakukan kebaikan, ataupun teguran kalau melakukan keasalahan.

Maka dari itu ketika kembali kerumah anak  dapat memenuhi berbagai  kebutuhan, mendapat pendidikan dan pembelajaran yang baik dari orang tua dan anggota keluarga lainnya sehingga  daya insani dan daya rabbani yang dikaruniakan Tuhan dapat tumbuh dengan baik.
Keenam di dalam keluarga mesti terjalin komunikasi yang baik.

Komunikasi yang baik merupakan kunci utama agar pesan pendidikan sampai kepada anak. Komunikasi dapat berupa verbal dan non-verbal akan ditiru oleh anak. Anak akan belajar segala hal dari apa yang disampaikan oleh orang tua. Orang tua tidak boleh diam ketika kembali kerumah minimal dapat bertanya berupa empati “Apa yang ia rasakan hari ini? Atau Apa yang dilakukan hari ini?".

Pertanyaan yang cukup sederhana namun  mempunyai makna dan berpengaruh besar dalam perkembangan anak. Di keluarga anak dapat menceritakan kelu kesahnya, mendapat nasehat yang baik,  mendapat perlakuan yang baik, menceritakan tentang cita-citanya, doa dan harapannya sehingga akan tumbuh menjadi generasi yang hebat di masa yang akan datang.

 Dari berbagai masalah yang di alami oleh para remaja saat ini sebagian besar bersumber dari keluarga, sebagian orang tua yang sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak peduli apa yang dilakukan oleh anaknya, padahal pada saat puberitas anak-anak perlu bimbingan dari orang tua tentang baik atau tidak baik yang dilakukan menurut norma agama, masyarakat,dan hukum.

Hal ini jika dibiarkan akan menajadi masalah, seperti yang kita saksikan di media belakangan ini tentang berbagai kasus yang dilakukan oleh remaja. Menurut ahli psikologi pendidikan menyatakan bahwa pengabaian yang dilakukan oleh keluarga atau orang tua akan berpengaruh kepada perkembangan kepribadian dan sosial anak. Keluarga sangat besar peran dalam pembangunan karakter, cita-cita (karir), potensi anak. Pada intinya lembaga yang bernama keluarga tidak boleh salah persepsi lagi dan hanya menyerahkan pendidikan anaknya ke-sekolah saja, namun mesti ada sinergitas yang baik antara lembaga keluarga dan sekolah. Dan pada akhirnya akan terlahir Sumber Daya Manusia handal untuk negeri ini dan tercapainya hakikat dari pendidikan itu yaitu upaya untuk memuliakan-kemulian manusia.

Oleh : Aidia Rasyid ( Praktisi Konseling Pendidikan)

loading...