Dengan Kesadaran Kolektif, Warga Rimbo Panjang Giatkan Patroli Cegah Karlahut

id dengan kesadaran, kolektif warga, rimbo panjang, giatkan patroli, cegah karlahut

Dengan Kesadaran Kolektif, Warga Rimbo Panjang Giatkan Patroli Cegah Karlahut

Pekanbaru, (Antarariau.com) - Warga daerah langganan kebakaran lahan dan hutan di Desa Rimbo Panjang Kabupaten Kampar, Riau, kini memiliki kesadaran kolektif untuk melakukan patroli tanpa bergantung bantuan dana dari pemerintah demi mencegah kebakaran kembali terjadi di daerah itu.

"Lewat Masyarakat Peduli Api, warga patroli setiap hari karena itu sampai sekarang daerah ini nol titik api, berbanding dari tahun lalu yang terbakar parah," kata Ketua Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Rimbo Panjang, Arman, kepada Antara disela kunjungan Badan Restorasi Gambut (BRG) dan sejumlah peneliti dari Jepang dan dalam negeri, Rabu.

Ia mengatakan MPA Rimbo Panjang memiliki 30 anggota yang bergantian melakukan patroli pencegahan kebakaran lahan dan hutan. Menurut dia, patroli tersebut terus berjalan meski tanpa bantuan dana dari pemerintah daerah dan Satuan Tugas Siaga Darurat Kebakaran Lahan dan Hutan Riau.

Arman menjelaskan, sejak BRG memberikan pelatihan dan peralatan pembuatan sumur bor untuk antisipasi kebakaran lahan di daerah itu, warga setempat mencari cara bagaimana mendapatkan dana sendiri untuk biaya operasional patroli rutin. Caranya adalah dengan warga membuka usaha sumur bor yang banyak dibutuhkan perumahan yang mulai marak di daerah itu.

"Dari uang yang didapatkan dari usaha sumur bor itu, sebanyak 20 persen disisihkan untuk biaya patroli MPA. Kalau kami mengharapkan bantuan dari atas (pemerintah) susah sekali," kata Arman.

Kepala Desa Rimbo Panjang, Zalkaputra, mengatakan daerah tersebut sebelumnya selalu menjadi "lumbung" asap karena terus dilanda kebakaran sejak 2006. Rimbo Panjang sangat rawan terjadi kebakaran karena 80 persen dari luas daerahnya yang mencapai 9.000 hektare merupakan lahan rawa gambut.

Lokasi daerah itu yang hanya berjarak 10 kilometer dari Kota Pekanbaru membuat asap kebakaran selalu menyelimuti seluruh kota hingga Bandara Sultan Syarif Kasim II.

"Dahulu belum ada sistem dan alat yang benar untuk mengantisipasi kebakaran. Kendala yang selalu kami dapatkan setiap terjadi kebakaran adalah sumber air yang minim dan sulit untuk mobilisasi petugas pemadam kebakaran," ujarnya.

Meski begitu, ia bersyukur dari bencana tersebut masyarakat setempat bisa mengambil hikmahnya dan itu disambut baik oleh BRG yang membantu pembangunan 50 pompa air di Rimbo Panjang. "Pompa air yang dibangun hanya butuh dana yang minim, sekitar Rp1,5 juta per sumur. Ketika tidak terjadi kebakaran, airnya bisa digunakan warga untuk bertani," katanya.

Ia berharap BRG juga memberikan solusi berupa teknologi yang bisa diterapkan secara mudah dan murah untuk warga bertani di lahan gambut tanpa perlu merusak ekosistem yang ada.

"Sebagian besar warga berprofesi sebagai petani, jadi kami harap ada solusi untuk membantu meningkatkan ekonomi dari bercocok tanam di lahan gambut tanpa harus membakar," katanya.