Satgas Kerahkan 1 Helikopter Bom Air Kebakaran Lahan di Pelalawan

Pekanbaru, (Antarariau.com) - Satuan tugas udara kebakaran hutan dan lahan Provinsi Riau menerbangkan satu unit helikopter jenis Bell 412 PK-TWV guna melakukan operasi "water bombing" atau pengeboman air di Kecamatan Pangkalan Terap, Kabupaten Pelalawan.

"Lokasi kebakaran cukup sulit dijangkau melalui jalur darat sehingga harus diatasi dengan operasi pengeboman air," kata Kepala Seksi Base Ops Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin, Mayor Ferry Duwantoro di Pekanbaru, Selasa. 

Ferry menuturkan upaya pengeboman air tersebut dilakukan setelah Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru memantau titik api yang mengindikasikan kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut dalam dua hari terakhir. 

Sementara itu, berdasarkan patroli udara yang dilakukan pesawat tempur Hawk 100/200 dari Skadron Udara 12 pada Selasa pagi ini, titik api terpantau cukup besar. 

Berdasarkan foto yang dirilis Lanud Roesmin Nurjadin, kebakaran di Pangkalan Terap, Kecamatan Teluk Meranti, Pelalawan menyebabkan asap tebal membumbung ke udara. 

"Helikopter dengan kapasitas bucket 1.200 liter air telah terbang ke lokasi untuk operasi pemadaman," jelasnya. 

BMKG Pekanbaru mendeteksi empat titik panas sebagai indikasi kebakaran hutan dan lahan dengan tingkat kepercayaan di atas 50 persen hari ini. 

"Titik panas dengan tingkat kepercayaan di atas 50 persen terdeteksi di tiga kabupaten di Riau," kata Kepala BMKG Pekanbaru, Sugarin.

Sugarin menuturkan ke empat titik panas yang terpantau satelit Terra dan Aqua sejak Senin (13/2) hingga pagi hari ini terdeteksi di Pelalawan dan Meranti masing-masing satu titik dan Rokan Hilir dua titik. 

Dari empat titik panas di Riau, BMKG mendeteksi hanya satu titik yang dipastikan sebagai titik api. BMKG mengkategorikan titik api sebagai indikasi kuat adanya kebakaran lahan dengan tingkat kepercayaan di atas 70 persen.

"Satu titik api terdeteksi di Kabupaten Meranti, tepatnya di Kecamatan Tebing Tinggi Barat," tutur Sugarin. 

Keberadaan titik panas maupun titik api  yang terpantau hari ini merupakan yang pertama kali selama Februari 2017. Hal itu berbeda dibanding pada medio Januari 2017 lalu. Saat itu belasan titik api terdeteksi satelit yang menyebar di sejumlah kabupaten dan kota di Riau. 

Namun kemudian, upaya pencegahan terpadu serta cuaca yang cenderung hujan, titik-titik api berhasil diatasi. 

Meski begitu, BMKG menyatakan bahwa Riau diprediksi segera memasuki musim kemarau pada pertengahan Februari 2017 ini. 

Pertimbangan itu yang kemudian dijadikan alasan Pemprov Riau menetapkan status siaga darurat kabut asap akibat Karhutla hingga 30 April 2016.

Gubernur Riau, Aryadjuliandi Rachman menjelaskan penetapan status tersebut sebagai upaya memaksimalkan pencegahan dan penanggulangan secara terpadu bencana kebakaran hutan dan lahan di Riau.