Sudah 3 Hari 12 Hektare Lahan Gambut di Meranti Terbakar

Pekanbaru, (Antarariau.com) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Meranti mencatat 12 hektare lahan gambut di wilayah pesisir Provinsi Riau tersebut hangus terbakar. 

"Sudah tiga hari terbakar. Anggota kita bahkan menginap di lokasi untuk menanggulangi dan mencegah api meluas," kata Kepala BPBD Meranti, Edy Safrizal kepada Antara di Pekanbaru, Selasa. 

Ia menjelaskan lahan gambut kering yang terbakar tersebut berada di Desa Tanjung Peranap, Kecamatan Tebing Tinggi Barat. 

Personel gabungan BPBD, TNI, Polri, Masyarakat Peduli Api (MPA) dan Manggala Agni terus berusaha melakukan pemadaman hingga hari ini. 

Meski begitu, ia memastikan kondisi kebakaran terus menurun dalam tiga hari terakhir. "Alhamdulillah berhasil diatasi, hari ini tim gabungan fokus pendinginan di titik api," tuturnya. 

Lebih jauh, Edy menuturkan kondisi cuaca di Meranti cukup kering, meski ada beberapa daerah yang diguyur hujan dengan intensitas ringan. 

"Seperti hari ini, Kota Selatpanjang mendung dan hujan ringan. Tapi di lokasi kebakaran sudah beberapa hari tidak terjadi hujan sehingga lahan gambut cukup kering," jelasnya. 

Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika Pekanbaru mendeteksi empat titik panas sebagai indikasi kebakaran hutan dan lahan dengan tingkat kepercayaan di atas 50 persen hari ini. 

"Titik panas dengan tingkat kepercayaan di atas 50 persen terdeteksi di tiga kabupaten di Riau," kata Kepala BMKG Pekanbaru, Sugarin.

Sugarin menuturkan ke empat titik panas yang terpantau satelit Terra dan Aqua sejak Senin (13/2) hingga pagi hari ini terdeteksi di Pelalawan dan Meranti masing-masing satu titik dan Rokan Hilir dua titik. 

Dari empat titik panas di Riau, BMKG mendeteksi hanya satu titik yang dipastikan sebagai titik api. BMKG mengkategorikan titik api sebagai indikasi kuat adanya kebakaran lahan dengan tingkat kepercayaan di atas 70 persen.

 "Satu titik api terdeteksi di Kabupaten Meranti, tepatnya di Kecamatan Tebing Tinggi Barat," tutur Sugarin. 

Keberadaan titik panas maupun titik api  yang terpantau hari ini merupakan yang pertama kali selama Februari 2017. Hal itu berbeda dibanding pada medio Januari 2017 lalu. Saat itu belasan titik api terdeteksi satelit yang menyebar di sejumlah kabupaten dan kota di Riau. 

Namun kemudian, upaya pencegahan terpadu serta cuaca yang cenderung hujan, titik-titik api berhasil diatasi. 

Meski begitu, BMKG menyatakan bahwa Riau diprediksi segera memasuki musim kemarau pada pertengahan Februari 2017 ini. 

Pertimbangan itu yang kemudian dijadikan alasan Pemprov Riau menetapkan status siaga darurat kabut asap akibat Karhutla hingga 30 April 2016.

Gubernur Riau, Aryadjuliandi Rachman menjelaskan penetapan status tersebut sebagai upaya memaksimalkan pencegahan dan penanggulangan secara terpadu bencana kebakaran hutan dan lahan di Riau. 


loading...