Sete Star Sept Sukses Guncang Panggung Disonansi!!

Pekanbaru (Antarariau.com) - Bagi penggemar musik cadas, nama Sete Star Sept tentu tidak asing lagi. Duo grind-core asal Jepang tersebut hadir di Pekanbaru dalam rangka memulai tur mereka di Sumatera. Rekanada, Selaku penyelenggara menyebutkan bahwa kedatangan Sete Star Sept sendiri lebih kepada pembuka event mereka ditahun 2017.

Dengan mengusung tema "Disonansi", pihak Rekanada mengaku bahwa hal tersebut lebih mengacu kepada sebuah bentuk eksperimental dalam musik, dimana sejumlah bunyi-bunyian yang dianggap kurang mengenakkan dapat menciptakan sebuah harmonisasi yang unik.

"Kita coba panaskan panggung musik Pekanbaru di 2017. Dan Sete Star Sept sepertinya pilihan yang tepat," ucap Parlindungan selaku juru bicara Rekanada, Sabtu (18/3).

Bertempat di salah satu kafe di Pekanbaru, Disonansi sendiri tidak hanya menjadi ajang bagi para penikmat musik saja, tapi pihak penyelenggara juga menghadirkan sejumlah usaha kreatif anak muda Pekanbaru.

"Kalau bukan kita siapa lagi," imbuhnya.

Selain itu, dalam gelaran tersebut, Rekanada juga mendatangkan sejumlah band cadas Pekanbaru, sebut saja Makam, Maoren Blood, dan beberapa nama lainnya yang memang cukup mumpuni.

Ditemui jelang pertunjukkan personel Sete Star Sept, Ryosuke Kiyasu dan Kae Takahashi, mengaku bahwa mereka sangat bersemangat dalam acara kali ini. Pasalnya ini adalah kali pertama Sete Star Sept hadir di Sumatera. Namun bagi Ryosuke ini adalah kunjungan keduanya, dimana sebelumnya ia telah lebih dulu sambangi Dumai dalam promosikan projek solonya.

"Saya sangat terkejut dengan sambutan masyarakat Dumai waktu itu. Jumlah pengunjung melebihi ekspektasi saya!!!," ungkap Ryosuke.

Akhirnya, setelah sejumlah band pembuka menunjukkan kebolehan mereka, tiba giliran Sete Star Sept untuk unjuk gigi. Tak perlu waktu lama bagi band tersebut membakar semangat dari para penggemarnya. Mulai dari sekedar headbang, hingga "mosh pit" atau tarian ala penggemar musik cadas dimana mereka membuat suatu lingkaran dan saling bertabrakan. Eits, jangan salah sangka dulu, "mosh pit" sendiri merupakan hal yang lumrah dalam gelaran musik serupa. Meski saling beradu fisik, namun semua kembali teratir sesuai dengan tempo lagu.

Dari pantuan Antara, acara malam itu memang cukup "liar". Pasalnya, Sete Star Sept memang menghadirkan musik yang cukup eksperimental. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan Ryosuke sebelumnya. Ia mengaku bahwa mulai dari lirik, serta aransemen yang mereka hadirkan memang cukup diluar konsep musik yang ada. Terlebih itu adalah Grind-Core.

Sekitar 45 menit Sete Star Sept menunjukkan kebolehan mereka dan mengguncang panggung Resonansi. Menguras banyak tenaga, baik Ryosuke dan Kae sama-sama kehabisan energi. Ryo yang menggebuk drum langsung terduduk lemas, pun juga kae.

Hal tersebut lantaran selama pertunjukkan, Sete Star Sept memainkan tempo tinggi tanpa henti, dan tanpa jeda. Sungguh pertunjukkan musik yang tak biasa. Hal tersebut diakui Taufik, salah seorang pengunjung kala itu. Taufik yang memag penggemar musik cadas mengaku bahwa pertunjukkan tersebut sangat "menghibur". Tak lepas dari aksi panggung, jenis musik yang diberikan Sete Star Sept dinilainya cukup unik.

"Kae yang megang bass sangat enerjik. Sound-nya pun agak aneh. Saya banyak melihat pemain bass dengan efek yang unik, tapi kalau kae, saya bilang dia aneh," ungkap Taufik seraya tertawa.

Taufik dan beberapa rekannya yang hadir saat itu mersa sangat senang dapat menyaksikan penampilan band bertaraf Internasional tersebut.

Oleh: Retmon Bensal Putra