Mengalami Kelainan Hati, Bayi Khairul Asbih Akhirnya Meninggal Dunia

id mengalami kelainan, hati bayi, khairul asbih, akhirnya meninggal dunia

Mengalami Kelainan Hati, Bayi Khairul Asbih Akhirnya Meninggal Dunia

Pekanbaru (Antarariau.com) - Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Achmad Pekanbaru, Nuzelly Husnedi menyampaikan setelah sempat dirawat di ruang PICU RS setempat selama sembilan hari, bayi Khairul Asbih penderita kelainan hati berat akhirnya meninggal dunia.

"Meninggalnya Minggu (23/4) sore," kata Nuzelly Husnedi dijumpai Antara disela acara peluncuran IVA tes di Puskesmas Sidomulyo Pekanbaru, Selasa.

Nuzelly Husnedi mengemukakan saat di rujuk 15 April ke RSUD Arifin Achmad, sesuai kondisi bayi ketika masuk alami gangguan hati berat, pihaknya langsung melakukan upaya pengobatan semaksimal mungkin.

"Yang jelas sesuai kondisinya kami sudah optimalkan perawatan, sempat ada perbaikan pada keadaannya. Tetapi Tuhan berkehendak lain," ujar Nuzelly Husnedi.

Ia juga mengakui pihak RSUD sudah memberikan pelayanan terbaik buat Khairul Asbih bayi malang dari pasangan ayah bayi Winarto (28) dan ibunya Eka Agustina (21).

"Semua biaya sudah ditanggung BPJS," tambahnya.

Sebelumnya diberitakan RSUD Arifin Achmad sudah merawat seorang bayi 7 bulan Khairul Asbih penderita kelainan hati berat pasien BPJS.

Bayi ini warga miskin asal Dusun Ampat Sukamaju Desa Kepau Jaya Kecamatan Siak Hulu, Kampar, Riau.

Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman (Andi) bahkan kala itu menyempatkan diri untuk menjenguk kondisi bayi malang berusia 7 bulan itu.

"Sekarang pasien sudah dirawat di RSUD dan masalahnya sekarang sudah bisa diselesaikan," kata Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman usai meninjau pasien yang di rawat di ruang PICU RSUD Ariifin Achmad, di Pekanbaru Rabu (19/4).

Andi mengemukakan agar hal seperti ini tidak lagi terjadi kedepan dimana ada keluarga kurang mampu tidak memiliki akses dan data serta jaminan kesehatan di Riau, makanya perlu dilakukan koordinasi antara kabupaten/kota dan dinas kesehatan.

"Jadi memang ini perlu dilakukan koordinasi lagi harusnya hal-hal yang seperti ini sifatnya teknis itu bisa diselesaikan kabupaten/kota masing-masing,"tegas Andi.

Sementara itu ayah bayi Winarto (28) dan ibunya Eka Agustina (21) kepada antara mengaku senang mendapat bantuan bagi perawatan anaknya.

"Kami tak ada uang untuk bawa berobat sakit anak kami katanya hati," kata Winarto.

Ia yang bekerja serabutan kadang membabat rumput di kebun orang hanya memiliki upah Rp50.000 per hari.

"Itupun kadang kerja tempo," terangnya sedih.

Anak pertama dari perkawinannya dengan istri kedua ini sudah sakit sejak usia tiga bulan.

Namun selama ini hanya dibawa berobat ke Puskesmas Desa Kepau.

"Kadang ke dukun, karena tak tau apa sakitnya," tambahnya pasrah.