Keberadaan Gepeng Di Pekanbaru Mulai Resahkan Warga

Pekanbaru (Antarariau.com) - Sejumlah warga di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau untuk kesekian kalinya meminta Pemerintah Kota Pekanbaru segera menertibkan pengemis anak dan orang dewasa yang beroperasi meminta uang pada tiap pemilik kendaraan di perempatan lampu merah.

"Sepertinya hampir semua jalan-jalan di perempatan lampu merah Kota Pekanbaru dijuluki kota bertuah itu diramaikan dengan pengemis dan anak jalanan. Ada yang sengaja meminta uang dan ada pula anak dibawah umur dengan modus menjual koran, sejak siang hingga malam masih terus mengemis meminta uang kepada  pemilik mobil-mobil yang berhenti," kata Lina (39) warga Kota Pekanbaru, Rabu.

Menurut Lina, Pemkot Pekanbaru sudah membentuk Tim Reaksi Cepat (TRC) namun gelandangan, pengemis dan anak jalanan khususnya masih saja beroperasi dan jumlah mereka justru berambah banyak.

Seharusnya, katanya, keberadaan TRC ini dievaluasi kembali dan diharapkan mereka bisa bekerja siang malam menertibkan pengemis dan anjal  itu mulai dari di perempatan Jalan Sisingamangarja, Jalan Tuangku Tambusai depan Mall SKA, perempatan pasar pagi Arengka, dan  perempatan lampu merah Harapan Raya.

"Aksi mereka makin marak di perempatan lampu merah Arifin Achmad, perempatan  merah Gubernuran Riau, Arengka I, Arengka II dan didepan mall SKA Pekanbaru," katanya.

Ada saja aksi mereka, kata Dodi warga kota Pekanbaru lainnya, yakni dengan cara melap kaca mobil dilakukan anak dibawah umur dan perempuan hamil, dengan menggunakan kemoceng namun setelah itu meminta imbal jasa lebih.

"Pekanbaru layaknya kota Jakarta,  ada saja orang yang menawarkan jasa di jalan, atau berjualan di jalan, dengan tidak mengindahkan debu, asap kendaraan dan panar terik, sedangkan penampilan mereka terlihat dekil dan lusuh," katanya.

Menurut dia, anak-anak jalanan yang beroperasi  di jalan selain merusak estetika Kota Pekanbaru, juga meresahkan pemilik mobil dan mereka sepertinya tidak mengindahkan bahaya yang mengancam mereka.

Mirisnya, sebanyak tiga orang anak kecil usia 5-7 tahun masih berkeliaran di perempatan lampu merah pasar Pagi Arengka, dan Jalan Gajah Mada dengan modus menjual koran namun  mereka mengetuk pintu-pintu mobil yang sedang berhenti.

"Kasihan kami pak, dari pagi belum makan, minta uang pak?," kata Toni warga kota lainnya  yang meyakini pula bahwa mereka "beroperasi" mencari nafkah  pada malam hari diyakini diawasi oleh orang tuanya.

"Ini jelas sudah tidak benar, anak yang  seharusnya bermain atau belajar di rumah, eh ini malah dieksploitasi mencari uang di jalanan," kata Rendra pula.

Sebelumnya Sekretaris Daerah Kota Pekanbaru, Muhammad Noer mengakui Pemko Pekanbaru selalu menghadapi sejumlah kendala dalam mengatasi gelombang gepeng memasuki Ramadhan. Diantara kendala yang kerap dihadapi adalah kurangnya petugas dari Satuan Polisi Pamong Praja Pekanbaru untuk terus melakukan pengawasan dan saat penertiban.

Kemudian, dari Dinas Sosial Kota Pekanbaru juga kerap dihadapkan dengan masalah penampungan sementara serta terbatasnya tenaga untuk melakukan pembinaan.