Menikmati Kenyaman di Sekolah Baru Tanpa Perpeloncoan

Pekanbaru (Antarariau.com) - Genta Sihera, pelajar baru di SMP Negeri 18 Kota Pekanbaru, Provinsi Riau berjalan perlahan memasuki sekolahnya, sambil terus tersenyum geli saat mengenang hari pertama dan kedua Masa Orientasi Siswa (MOS) yang telah dilewati pada Rabu-Kamis pekan lalu.

Kenapa tidak, Genta menikmati dua hari MOS dengan nyaman bersama teman-teman yang baru, kakak kelas, dan guru mereka yang baru karena sekolah tidak lagi menerapkan perpeloncoan atau kekerasan.

Ada ada saja ide kakak kelas dari OSIS, panitia MOS membuat kegiatan yang lucu-lucu sehingga siswa ketawa walaupun cenderung malu membawa perbekalan MOS yang disuruh buat sendiri dari rumah masing-masing.

Perbekalan  MOS itu adalah satu buah topi dari daun nangka serta kalung identias diri dibuat dari kertas karton ukuran 30 cm x 10 cm bertuliskan nama siswa yang diikatkan ke leher pakai tali rafia.

"Ya terang aja, saya malu memakainya dari rumah, tentunya disimpan dulu dalam tas dan  setelah MOS mulai topi dan kalung identitas, baru dipakai. Berikutnya sebatang coklat yang juga dibawa masing-masing pelajar dikumpulkan dan dimakan bersama-sama," katanya.

Ibunda Genta, Sri Budi Siswati  yang juga Kepala TK Almunawroh, Jalan Meranti Labuh Baru itu mengaku senang karena anak bisa menikmati kenyamanan MOS tanpa perpeloncoan itu, sebab di sekolah mereka sudah mendapatkan kesan yang baik.

Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru tidak menerapkan perpeloncoan dalam penerimaan siswa baru tahun 2017 dan menggantinya dengan kegiatan pengenalan lingkungan sekolah selama dua hari.

Selama dua hari mulai pukul 07.00 WIB sampai pukul 12.30 WIB pelajar mengikuti masa orientasi siswa (MOS) berisi pengenalan lingkungan belajar yang baru, guru baru, dan kakak kelas serta membangun nasionalisme yakni cinta Tanah Air, kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru Abdul Jamal.

Kebijakan tersebut dilaksanakan Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru berkaitan dengan arahan Mendikbud Muhadjir Effendy  agar MOS harus jauh dari perpeloncoan atau kekerasan.

Menurut Abdul Jamal diwakili Kepala Seksi Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru, Kamala Sia Rio Nita, MOS digelar di luar ruangan dengan kegiatan belajar baris berbaris, memperkenalkan para guru bakal mengajar mereka, struktur organisasi intra sekolah (OSIS) serta ruang kelas baru dan jumlah toilet di sekolah mereka.

Dalam MOS itu pelajar juga diperkenalkan agar bisa memahami aturan sekolah dan tata krama. Berikutnya siswa baru dibekali wawasan nusantarara, pendidikan karakter bangsa serta kesadaran kebangsaan.

"Kita tidak menerapkan perpeloncoan atau kekerasan, karena itu tidak mendidik, namun dengan pengenalan lingkungan sekolah, pelajar lebih memperoleh kenyamanan, ketenangan serta mendapatkan teman-teman baru," katanya.

Kepala SMP Negeri 1 Pekanbaru, Hj. Armiati mengatakan pendidikan luar sekolah (PLS) selama dua hari berjalan sukses dan lancar  dan diakhiri Jumat dengan kegiatan jalan kaki sehat oleh pelajar mengitari Masjid An Nur Pekanbaru.

Kegiatan berjalan kaki itu selain membuat pelajar sehat juga memperkenalkan pada pelajar bahwa sekolah berdekatan dengan kawasan Masjid An Nur yang menjadi ikon religi Kota Pekanbaru.

SMP Negeri  1 tidak menerapkan perpeloncoan dan kekerasan namun membekali pelajar agar mereka bisa merasa nyaman di sekolah sehingga tujuan menjadikan sekolah menjadi rumah kedua siswa bisa didapati pelajar.

Selama dua hari PLS, katanya lagi, pelajar disuruh memperkenalkan diri sendiri serta hobi masing-masing. Pada saat itu mereka juga ditawarkan untuk menampilkan bakat dan hobi mereka seperti menyanyi lagu Melayu, baca puisi dan mengaji.

Bahkan, ada peserta MOS merupakan juara nasional baca puisi yang diminta untuk menampilkan kemampuan di hadapan teman-teman dan guru baru mereka.

Program PLS berorentasi menggali bakat anak yang selanjutnya mereka juga akan dipersiapkan untuk mengikuti berbagai lomba tingkat Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, dan nasional sebagai utusan SMP Negeri 1 Pekanbaru.

SMP negeri 1 Pekanbaru, tahun ini menerima siswa kelas satu sebanyak lima kelas dan ruang kelas semua pakai alat pendingin (AC) sedangkan awal pembelajaran baru akan dimulai Sabtu (15/7).

     
Taaruf 
    
SMP Muhammadiyah I Pekanbaru tidak menggelar perpeloncoan dalam masa orientasi sekolah bagi siswa baru, melainkan menggantinya  dengan Forum  Taaruf Siswa (Fortasi)  yakni pengenalan lingkungan di sekitar sekolah dan pelajar.

Pimpinan sekolah tidak menggelar perpeloncoan karena harus memberi kesan yang baik bagi pelajar tentang sekolah mereka sehingga anak-anak menjadi senang dan insya Allah akan membantu mereka belajar dengan baik.

Forum Taaruf meliputi kegiatan pengenalan lingkungan sekolah, cara belajar efektif, memahami aturan sekolah dan tata krama, serta materi Al Islam ke-Muhammadiyaha-n, kata Kepala SMP Muhammdiyah I Pekanbaru, Firnando.

SMP Muhammadiyah I tidak perlu menggelar perpeloncoan apalagi sudah ada ketetapan dari Mendikbud Muhadjir Effendy bahwa semua pihak untuk menjadikan sekolah sebagai rumah kedua bagi siswa. Sedangkan materi MOS hanya berisi pengenalan lingkungan belajar yang baru dan membangun nasionalisme yakni cinta Tanah Air.

Pada tahun 2017 dibuka 7 kelas terdiri atas 4 kelas Binsus (bimbingan khusus) masing-masing dengan jumlah pelajar hanya 30 orang, dengan kelas memiliki pendingin ruangan (AC) , pelajar mendapatkan laci dan menggunakan proyektor.

Sedangkan untuk kelas reguler sebanyak tiga lokal dengan 32 pelajar saja. Sesuai Permendikbud, pembatasan jumlah pelajar dalam satu lokal itu dilakukan karena SMP Muhammdiyah I Pekanbaru juga telah memperoleh akreditasi A dengan nilai mencapai 96 sejak tahun 2012.

"Tahun 2017 kami sedang menyiapkan usulan evaluasi akreditasi untuk tahun 2018, yang diwajibkan evaluasi akreditasi harus dilakukan sekali dalam lima tahun itu," katanya.

Pelajar SMP akan diberikan pengetahuan umum sekaligus selama 10 jam pelajaran agama Islam ke-Muhammadiyah-an, dengan program unggulannya yakni Tahfidz Al Quran adalah program menghafal Quran 30 juz.

Pelajar juga dibekali dengan pengetahuan tentang mengurus jenazah pada kelas sembilan dengan harapan mereka kelak bisa memberikan bantuan pada keluarga dan tetangganya.

Dengan sistim pendidikan vokasional dari pukul 07.10-16.30,  dengan menerapkan  kurikulum 13 sejak 2013 itu melalui manejemen pendidikan berbasis sekolah, SMP Muhammadiyah I kini didukung oleh sebanyak 37 orang pendidik diantaranya 8 PNS,  15 guru Yayasan Perserikatan Muhammdiyah dan 10 tenaga kontrak.

Animo masyarakat menyekolah anaknya ke SMP Muhammadiyah cukup tinggi hingga kini Yayasan Perserikatan Muhammadiyah pun membuka satu satu lokal untuk kelas jauh di Panam dan SMP boarding school di Rumbai dimana siswanya diasramakan.