Hikmah dan Makna Pembebasan

Jakarta, (Antarariau.com) - Ikhtiar membebaskan bangsa dari cengkeraman kolonialisme pada masa lalu perlu selalu dikenang, setidaknya setiap tahun sekali, sebab di dalamnya terkandung semacam hikmah dan makna yang bisa menginspirasi generasi di kemudian hari.

Pembebasan politik yang dijiwai oleh nasionalisme tanpa pamrih dari para perinris dan pejuang kemerdekaan itu menjadi tonggak perjalanan bangsa yang tak pernah kering sebagai sumber nilai-nilai dalam memaknai esensi kemerdekaan.

Merdeka adalah prasyarat utama manusia untuk bereksistensi dan dari sanalah semua penderitaan akibat penindasan dihentikan. Rasa gembira atau sukacita adalah konsekuensi logis dari tergapainya kemerdekaan itu.

Dengan demikian, setiap perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia pada dasarnya adalah ekspresi kegembiraan mengenang momentum bersejarah yang menandai pembebasan rakyat dari kolonialisme yang merendahkan martabat bangsa.

Begitu pula, dengan perayaan pada HUT Ke-72 NKRI pada tahun ini. Begitu hitungan almanak memasuki bulan Agustus, berbagai elemen bangsa dari berbagai segmen maupun lapisan sosial mulai menggelar acara yang bertujuan menyemarakkan kegembiraan dalam merayakan dirgahayu kemerdekaan itu.

Kegiatan yang sifatnya kompetisi dalam bidang olahraga digelar di berbagai instansi. Kementerian Dalam Negeri menyambut HUT Ke-72 RI dengan menggelar sejumlah pertandingan olahraga, seperti bulu tangkis, tenis meja, voli, futsal, basket, dan catur di lapangan Kemendagri bersama para mitra kerja.

Mendagri Tjahjo Kumolo mengatakan bahwa pertandingan persahabatan yang melibatkan sejumlah elemen, seperti TNI, Polri, parlemen, dan wartawan, ini guna membangun jiwa sportivitas dan kebersamaan antarinstansi.

Ia berharap harmonisasi dapat tercipta dan bisa bersinergi dalam bekerja, menjaga, dan membangun bangsa.

Di tataran sosial, berbagai acara yang menghadirkan kegembiraan juga dilakukan oleh warga di kampung-kampung. Lomba balap karung, makan krupuk, panjat pinang yang menjadi acara rutin agustusan tak pernah terlewatkan.

Wajah gang-gang dan kompleks perumahan pun dirias dengan umbul-umbul dan bendera Merah Putih yang menjadi karakter khas setiap bulan Agustus.

HUT Kemerdekaan RI juga dirayakan dalam bingkai religiositas yang menggejala di kampung-kampung dengan diselenggarakannya apa yang disebut kenduri agustusan.

Setidaknya, di lingkungan yang mayoritas warganya terhimpun dalam organisasi kemasyarakatan Nahdlatul Ulama (NU), seperti di wilayah Jawa Timur, perhelatan pembacaan tahlilan dan Surah Yassin, diselenggarakan di kampung-kampung tepat malam sebelum memasuki hari kemerdekaan, yakni 17 Agustus.

Dalam nalar kaum nahdiyin, yang terbiasa melakukan tahlil atau pembacaan doa untuk kerabat yang meninggal dunia, para pahlawan yang gugur membela Tanah Air dalam perang kemerdekaan adalah syuhada yang layak diberi kiriman doa lewat tahlil setiap malam menjelang hari kemerdekaan.

Dengan demikian, peringatan HUT Kemerdekaan RI juga diberi muatan makna secara religius oleh warga, setidaknya oleh komunitas yang punya tradisi tahlilan.

Ada pesan penting tahun ini dari Presiden RI Joko Widodo untuk memaknai HUT Ke-72 Kemerdekaan RI. Kepala Negara mengajak masyarakat Indonesia untuk mensyukuri kemerdekan RI dengan bekerja keras dan berdoa untuk kemajuan bangsa.

"Melalui kemerdekaan yang ke-72 ini kita meneguhkan komitmen kita untuk menjaga persatuan, menjaga kerukunan dan toleransi, serta kerja bersama, kerja beriringan antara ulama dan umara untuk kemajuan negara kita Indonesia," kata Presiden.

Dengan dasar negara Pancasila, masyarakat saling menghargai dan antarkelompok dapat hidup rukun serta bekerja sama, kata Jokowi.

Makna perayaan HUT Kemerdekaan juga disampaikan oleh akademisi yang juga Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Prof. Muhammad Fauzan.

Ia mengatakan bahwa peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia merupakan momentum untuk memperkuat empat pilar kebangsaan.

"HUT RI adalah momentum untuk memperkuat empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika," katanya lagi.

Muhammad Fauzan yang juga merupakan Ketua Pusat Penelitian dan Pengembangan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan Universitas Jenderal Soedirman menambahkan bahwa momentum HUT RI semestinya juga dapat menggugah semangat nasionalisme setiap elemen masyarakat.

Perayaan HUT Kemerdekaan juga bermakna penting dalam menghalau berbagai ideologi yang dapat merobek anyaman atau tenun kebangsaan, terutama ketika muncul kecenderungan politik global yang memberi ruang bagi benih-benih teokrasi yang memorak-porandakan sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.

Dengan merayakan HUT Kemerdekaan RI, memori bangsa diingatkan kembali pada usaha bersama yang pernah dilakukan berbagai elemen bangsa dari lapisan sosial, etnisitas, dan aliran religi yang majemuk.

Itu sebabnya komitmen bersama para perintis dan pendiri negara yang memilih negara bangsa sebagai landasan dasar untuk bersatu sungguh tak etis untuk dicederai lewat jalan apa pun, termasuk jalan demokrasi yang disesatkan melalui kekuatan yang berbasis pemilahan dikotomi antara kaum mayoritas dan minoritas.

Tampaknya penting untuk selalu direnungkan dan diupayakan  bersama bahwa merekatkan berbagai elemen masyarakat plural demi keutuhan bangsa perlu juga dilakukan lewat berbagai aktivitas peringatan HUT Kemerdekaan RI.

Tentu keutuhan bangsa yang diimpikan sejak awal tercapainya kemerdekaan bangsa itu tidak bisa hanya diwacanakan setiap momen agustusan, tetapi harus menjadi praksis politik berkesinambungan yang muaranya tak lain dan tak bukan adalah mewujudkan nilai-nilai keadilan.

Masalahnay, tanpa keadilan, kebersamaan, dan keutuhan sosial, hanya bisa dipertahankan lewat usaha pemaksaan yang kesintasannya tak bisa berlangsung selamanya.