RSUD Arifin Achmad Akan Lakukan Penambahan Alat Pembersih Darah

Pekanbaru (Antarariau.com) - Manajemen RSUD Arifin Achmad, Kota Pekanbaru, kekurangan peralatan hemodialisis yang berfungsi untuk pembersih darah untuk melayani jumlah pasien yang terus bertambah.

Direktur RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru dr H Nuzelly Husnedy MARS dihubungi di Pekanbaru, Kamis, menyatakan, saat ini jumlah peralatan yang ada baru sebanyak 18 unit. Rumah sakit milik Pemprov Riau itu berencana menambah jumlah alat tersebut hingga mencapai 50 unit.

"Penambahan dilakukan melalui model kerjasama dengan pihak swasta dan akan dilakukan bertahap dan dimulai akhir tahun ini," ujarnya.

Pasien yang menggunakan peralatan hemodialisa terus meningkat, disebabkan RSUD Arifin Achmad memiliki tenaga medis andal dibanding RS lain di Riau. Selain itu, adanya program jaminan kesehatan nasional sehingga pasien yang sudah terdaftar dalam BPJS Kesehatan tidak akan dikenakan biaya.

Apalagi, kini satu dokter spesialis dari RSUD Arifin Achmad sudah selesai mengikuti pendidikan subspesialis khusus dan menjadi konsultan ginjal hipertensi (KGH) yang keahliannya sangat dibutuhkan untuk penanganan kasus gagal ginjal.

Menurut Nuzelly, adanya fasilitas dari pemerintah telah mendorong masyarakat untuk melakukan pengobatan secara medis. Kalau sebelumnya orang kalau sakit hanya dibawa berdoa, pengobatan non medis atau ke alternatif. 

"Kini mereka kalau sakit maka RS akan menjadi tempat pengobatan dan ini yang mengakibatkan pasien yang butuh penanganan secara hemodialisis terus bertambah," ujar alumnus kedokteran Unand itu.

Seorang pasien gagal ginjal Novi menyatakan, harus antre untuk mendapatkan pelayanan hemodialis di RSUD Arifin Achmad disebabkan banyaknya pasien yang membutuhkan penanganan tersebut.

Ia menyatakan harus cuci darah dua kali dalam seminggu dengan durasi waktu masing-masingnya empat jam, namun tidak bisa dipenuhi RSUD disebabkan antrean pasien.

"Saya hanya dapat empat jam dan dua jam disisipkan, disebabkan adanya pasien yang sudah meninggal dan kekurangan dua jam itu mengakibatkan racun dalam darah juga masih besar," ujarnya.

Disisi lain di RS swasta mau menerimanya untuk cuci darah, namun cuci darah harus dilakukan delapan jam di RS tersebut, padahal menurut dia dokter di RSUD penanganannya lebih bagus.

"Ada RS swasta lain yang juga bisa menerima cuci darah namun yang ditanggung hanya untuk cuci darahnya saja, sementara kalau ada biaya yang muncul terkait proses penangangan medis sebelum cuci darah itu ditanggung sendiri," ujarnya.