Karyawan Travel Dan Air Asia Diperiksa Polisi Terkait Dugaan Penipuan

Pekanbaru (Antarariau.com) - Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Riau melakukan pemeriksaan terhadap karyawan Pentha Wisata Travel dan maskapai Air Asia terkait dugaan penipuan ratusan jemaah umroh di Pekanbaru.

"Sementara ini, masih lima saksi yang sudah diperiksa. Empat saksi pelapor dan satu karyawan travel, yang dari maskapai belum datang memberikan keterangan," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Riau, Kombes Pol Guntur Aryo Tejo di Pekanbaru, Selasa.

Pemeriksaan dari pihak Pentha Travel, lanjutnya, sudah ada seorang wanita inisial Pi yang diperiksa beberapa hari yang lalu. Untuk keterangan yang bersangkutan, saat ini masih dipelajari juga bukti transfer dari korban ke pihak travel.

Selain itu, penyidik juga sedang menunggu bukti adanya transaksi dari pihak korban kepada Pentha Travel yang dilanjutkan kepada pihak Maskapai Air Asia. 

"Untuk membuktikan kasus ini masuk unsur pidana, penyidik perlukan bukti transaksi dari korban kepada pihak terkait," terang Guntur.

Sebelumnya pada Jumat (29/9) lalu puluhan masyarakat menggiring Johan, Pemilik Pentha Travel, "ke Sentra Pelayanan Kepolisian" Terpadu (SPKT) Polda Riau. Korban ingin Johan diproses dengan dugaan penipuan dan penggelapan miliaran dana umrah.

Sedikitnya 700-an orang calon jemaah yang mendaftar diduga menjadi korban penipuan. Korban tak terima dan merasa ditipu oleh Johan yang berulang kali menjanjikan pemberangkatan hingga pengembalian uang, tapi tidak pernah terealisasi sampai tahun ini.

"Ada yang sejak tahun 2015, saya sendiri mendaftar sejak tahun 2016. Janjinya Februari tahun 2017 diberangkatkan, tapi tidak pernah berangkat saya untuk umrah," kata Syafril Tanjung, salah seorang calon jemaah saat itu.

Johan ketika itu kembali mengumbar janji kepada calon jemaah terkait pengembalian uang. Ia menjamin sampai tahun 2020 untuk mengembalikan uang dan menyebut sedang menjual beberapa aset yang dimilikinya.

"Nanti saya kembalikan, harap bersabar dulu," katanya.

Kasubdit I Reskrimum Polda Riau AKBP Asep Iskandar menyebut pihaknya sudah menerima laporan kasus ini pada awal September 2017. Hingga akhir bulan lalu, Asep menyebut sudah ada sekitar 35 orang yang membuat laporan serupa.