ANTARA Riau

logo
  • Home Menyambut Gubernur Baru di Bumi Lancang Kuning

Menyambut Gubernur Baru di Bumi Lancang Kuning

 Provinsi Riau bisa dipastikan akan memiliki gubernur dan wakil gubernur baru sebagai pemimpin di daerah berjuluk “Bumi Lancang Kuning” itu. Dalam perhitungan Komisi Pemilihan Umum hingga Jumat siang, pasangan calon Syamsuar-Edy Nasution untuk sementara unggul dengan perolehan suara 39,35 persen.

Dengan perhitungan suara yang sudah lebih dari 90 persen, pasangan nomor urut 1 itu sudah jauh meninggalkan tiga pesaing lainnya. Syamsuar-Edy unggul perolehan suara di sembilan dari 12 kabupaten/kota di Riau. Peringkat kedua adalah petahana Arsyadjuliandi Rachman dan Suyatno, yang meraih suara 24,83 persen. Perolehan suara keduanya terpaut jauh sekitar 15 persen, sehingga Syamsuar-Edy Nasution akan sulit tergeser dari posisi teratas.

Syamsuar lahir di Jumrah, sebuah daerah kecil di Kabupaten Rokan Hilir, Riau, pada 1 Juni 1954. Ia adalah lulusan Akademi Pemerintahan Dalam Negeri, kini bernama IPDN, tahun 1988 sebelum akhirnya meraih gelar sarjana di FISIP Universitas Sumatera Utara pada 1990, dan Pasca Sarjana Universitas Riau pada 2005.

Ia menapaki karirnya sebagai birokrat. Syamsuar pernah menjabat sebagai camat, asisten I di Setdakab Siak, sebelum akhirnya menjadi Wakil Bupati Siak mendampingi Arwin AS pada 2001-2006. Kemudian ia juga pernah menjadi Penjabat Bupati Kepulauan Meranti pada 2009, dan menjadi Bupati Siak dua periode mulai 2011 hingga kini.

Syamsuar dikenal sebagai sosok bupati yang banyak inovasi dan sukses membangun Siak. Suami dari Misnarni ini memperhatikan pembangunan infrastruktur jalan di daerahnya, dan keberhasilannya makin dikenal karena sebagai pencetus “Tour De Siak”, sebuah lomba balap sepeda bertaraf internasional yang memadukan olahraga dengan pariwisata.

Karir politiknya juga cukup bagus sebagai kader Partai Golkar, dan terakhir menjabat Ketua DPD Golkar Siak. Ironisnya, ia kemudian diberhentikan dari partai berlambang beringin itu ketika memutuskan maju dalam Pilgub Riau 2018, karena Golkar mengusung petahana Arsyadjuliandi Rachman selaku Ketua DPD Golkar Riau.

Syamsuar kemudian menggandeng sosok dari militer, yakni Edy Natar Nasution sebagai calon wakil gubernur. Edy adalah Jenderal Bintang Satu, mantan Komandan Korem 031 Wirabima dan kebetulan putra daerah kelahiran Bengkalis, Riau. Mereka kemudian diusung oleh PAN, PKS dan NasDem untuk berlaga di Pilgub Riau 2018. Dan keberhasilan mereka akan dicatat dalam sejarah tidak lama lagi.

"Ini bukan kemenangan Syamsuar, ini kemenangan rakyat Riau,” kata Syamsuar menanggapi keberhasilannya di Pekanbaru, Jumat.

Ayah dari tiga anak ini mengatakan, keberhasilan Syamuar-Edy tidak lepas dari berkah Allah SWT dan bantuan penuh dari tim pemenangan dan relawan. Ia bahkan mengungkapkan, tidak punya modal besar untuk berlaga di Pilgub Riau, terutama untuk bersaing dengan petahana Arsyadjuliandi Rachman yang punya kemampuan finansial kuat dari bisnis minyak, dan juga untuk bersaing dengan calon lainnya seperti Wali Kota Firdaus yang sangat berpengaruh di Pekanbaru dan Kampar.

Banyak relawan yang bergerak dengan dana pribadi, mulai dari kalangan pemuda, ustaz dan alim ulama. Bahkan banyak relawan yang tidak pernah bertatap muka langsung dengan Syamsuar, dan ia hanya mengetahui semuanya dari cerita kawan-kawan di tim pemenangan.

"Banyak relawan bantu tak mau disebut dan ditulis namanya. Ada ulama, ustaz dan anak-anak muda. Ini barangkali gerakan dari Allah SWT,” ujarnya.

   

    Menghapus Ego Minyak Riau   


Syamuar sepertinya tidak ingin terlalu lama terbuai dengan kemenangan. Meski belum dilantik sebagai Gubernur Riau defenitif, sudah banyak rencana dikepalanya yang ingin dituangkan untuk memajukan Riau. Karena itu, ia juga mengatakan mengajak semua pihak yang saling bersaing di Pilgub Riau untuk kembali bersatu membangun daerah itu.

"Mari bersatu padu agar Riau lebih baik. Ini sesuai dengan visi misi kami untuk membawa Riau menjadi berdaya saing, sejahtara, bermartabat dan unggul. Riau tak kalah dengan provinsi lain,” ujarnya.

Ia sangat menyadari bahwa selama ini masyarakat dan juga pemimpin Riau sebelumnya sangat terbuai dengan egonya bahwa daerah itu kaya dengan slogan “di atas minyak, di bawah minyak”. Padahal, pada kenyataannya, Riau kini dalam masa sulit karena sumber daya alam itu makin habis, dan berdampak pada keuangan daerah yang selama ini bergantung pada dana bagi hasil minyak.

"Kita tak bisa maju sendiri, sayang kita ini terlalu ego merasa minyak banyak,” ujarnya.

Syamsuar berpendapat, Riau harus merangkul lebih banyak orang luar untuk kemajuan bersama. Salah satunya adalah dengan menjalin hubungan lebih erat dengan pemimpin di Provinsi Kepulauan Riau dan DKI Jakarta.

Ia mengatakan, Wakil Gubernur DKI, Sandiaga Uno, meneleponnya untuk mengucap selamat dan keduanya berjanji untuk bekerja sama ke depannya.

"Sandiaga sudah ucapkan selamat ke saya. Kita akan kolaborasi ke depan karena dia kelahiran Rumbai (Pekanbaru) dan punya tanggung jawab ke Riau,” katanya.

Ketika menjabat nanti, Syamsuar berencana untuk mendorong lebih banyak investasi masuk ke Riau. Daerah tersebut kini membutuhkan lebih banyak investasi untuk membuka lapangan pekerjaan dan mengurangi tingkat pengangguran.

"Lapangan kerja di industri hilir harus diperbanyak. Banyak calon investor untuk kawasan industri di Siak, akan masuk ke Riau ini,” katanya.

Selain itu, ia juga sadar bahwa pemerintah daerah tidak bisa lagi mengandalkan sektor minyak dan gas sebagai pemasukan utama. Karena itu, Syamsuar juga sudah punya strategi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pajak penghasilan.

Sasarannya adalah pekerja di perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di Riau tapi pajak penghasilannya masuk ke Jakarta dan Sumatera Utara. “PAD bisa dinaikan dari pajak penghasilan yang banyak masuk ke Jakarta dan Medan dari pegawai perusahaan besar di Riau,” katanya.

Strategi lainnya adalah melakukan penertiban pada perusahaan-perusahaan kelapa sawit yang selama ini mengemplang pajak. “Ini bocoran ya, sebenarnya ini rahasia kami,” kata Syamsuar.



    Faktor Sosok TNI


ANTARA pernah mewawancarai calon wakil gubernur Edy Natar Nasution pada Januari 2018, sesaat sebelum dirinya memutuskan pensiun dini dari TNI dan meninggalkan jabatannya sebagai Komandan Korem 031 Wirabima untuk berkarir di politik. Jenderal bintang satu ini saat itu mengungkapkan bahwa sudah lama dirinya diminta masyarakat dan kawan-kawannya di Riau untuk maju dalam Pemilihan Gubernur Riau.

Edy Nasution mengaku memiliki hubungan emosional yang kuat dengan masyarakat Riau karena lahir di Kabupaten Bengkalis pada 21 Mei 1961, dan hubungan itu terus dijaga meski dirinya berdinas didaerah lain. Dan tawaran itu makin kuat dipenghujung masa karirnya yang akan pensiun pada 2019.

"Tahun 2019 adalah akhir dinas saya di TNI, lalu ada keinginan dari teman-teman dan masyarakat yang ingin sandingkan saya dengan salah satu calon di Pilgub Riau. Saya coba telaah kalau itu keinginan dari masyarakat, saya akan pelajari dan kasih saya waktu untuk memutuskan karena jangan asal saja ditemukan dengan Si A, Si B dan C," kata Edy kepada Antara.

Menurut dia, ada alasan kuat mengapa memilih untuk bersama Syamsuar. "Saya bangun komunikasi dengan Syamsuar bukan setelah saya jadi Danrem. Komunikasi jalan terus meski saya dinas di luar Riau," kata lulusan Akmil 1984 ini.

Tidak bisa dipungkiri bahwa hadirnya sosok dengan latar belakang TNI menjadi pendongkrak elektabilitas pasangan nomor urut 1 ini. Berdasarkan data dari Polmark Indonesia, konsultan politik pemenangan Syamsuar-Edy Nasution, elektabilitas Syamsuar sebelumnya sangat rendah sebelum memilih calon wakil gubernur.

Dari hasil survei Polmark pada Mei 2018, Syamsuar yang saat itu masih sendiri hanya punya elektabilitas sekitar 8,5 persen. Namun, ketika memilih Brigjen TNI Edy Natar Nasution sebagai calon wakil gubernur, elektabilitas kedua sebagai pasangan naik pesat ke 24,3 persen.

Dalam pertemuan di Pekanbaru, Kamis (28/6), Edy mengatakan salah satu kunci kemenangan pasangan tersebut adalah strategi pada bulan Ramadhan. Saat kampanye berlangsung pada bulan suci umat muslim itu, hasil survei menunjukan elektabilitas pasangan tersebut naik hingga 39,6 persen.

Dan strategi tersebut tidak perlu menggunakan politik uang karena bagi Edy, kemenangan tidak selamanya perlu dana yang besar asalkan efektif. Alhasil, selama kampanye, Edy sangat jarang berkampanye bersama Syamsuar. Keduanya bagi-bagi tugas, dan Edy punya tugas khusus untuk memecah suara di Kota Pekanbaru yang selama ini jadi kekuatan suara Wali Kota Pekanbaru Firdaus dan Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman, yang notabene adalah rivalnya di Pilgub Riau.

Pekanbaru punya peran strategis karena daerah itu punya jumlah pemilih yang besar dan lebih rasional. Edy kemudian berkampanye dengan cara bergerilya dari masjid ke masjid selama bulan Ramadhan.

"Saya dan tim mengunjungi 112 masjid yang berbeda. Shalat subuh di masjid satu, dzuhur di masjid lain, hingga taraweh di masjid lainnya. Ternyata langkah ini signifikan, ditambah faktor lainnya juga. Ini dorongan luar biasa,” katanya.

Edy dengan ketegasan khas perwira TNI juga sejak awal kampanye sangat menjauhi politik uang. Ia secara pribadi ingin memberikan pendidikan ke masyarakat agar demokrasi di Riau bisa berkelanjutan dengan lebih baik dan secara transparan.

"Kami berani katakan, Paslon 1 tidak pernah money politic dan bagi-bagi Sembako. Kalau ada, itu pasti bukan Paslon 1. Kalau ada yang sebut itu Paslon 1, maka itu fitnah. Kami ingin naik secara elegan, tak ingin membodohi masyarakat,” tegas Edy Nasution.

  



Komentar Anda

Top