ANTARA Riau

logo
  • Home Menggambarkan Perjalanan Sultan Siak Lewat Tari Kato

Menggambarkan Perjalanan Sultan Siak Lewat Tari Kato


Taman Siak Bermadah yang posisinya tepat di depan Istana Asserayah Hasyimiah (Istana Siak) tadi malam terlihat lebih ramai daripada hari biasanya.

Selain untuk menyaksikan pembukaan Festival Siak Bermadah, masyarakat juga dibuat penasaran dengan adanya kapal feri hias yang menepi di Bandar Sungai Jantan, Sungai Siak.

Ketika pembawa acara dari atas panggung mengumumkan adanya pertunjukan Tari Kato, masyarakat langsung dengan sigap merapatkan diri ke tepian taman, menatap kapal di atas sungai tanpa aba-aba.

Lampu sorot di kapal berukuran besar ini dinyalakan dan menyoroti dua penari cantik dari Sanggar Tasek Seminai sebagai tanda dimulainya pertunjukan. Gerakan lentur dan letusan kembang api yang melesat ke udara dari atas kapal berhasil memukau ratusan pasang mata.

Alunan musik Melayu yang sudah diaransemen ini mengiringi setiap gerakan Novelia dan Syaputri. Pertunjukan yang ditampilkan menggunakan kapal ini semakin terlihat unik karena dilangsungkan di atas Sungai Siak.

Tari Kato sendiri bukanlah tarian tradisional masyarakat Melayu, melainkan tari kreasi yang diciptakan Tim Inovatif dan Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara (Ikkon). Vita, panggilan akrab  koreografernya mengatakan kata 'kato' diambil dari nama kapal kepunyaan sultan selama masa pemerintahan Kesultanan Siak Sri Indrapura.

"Ide untuk menciptakan Tari Kato ini muncul dari keunikan cerita Kapal Kato itu sendiri yang selalu digunakan Kesultanan Siak di setiap perjalanannya dalam menyambangi daerah kekuasaan pada masanya," ucap Vita usai pertunjukan.

Pertunjukan yang ditampilkan oleh dua penari Sanggar Tasek Seminai ini pada setiap gerakannya untuk menggambarkan perjalanan Kapal Kato menemani sultan, dari mulai dibuat lalu digunakan untuk menyusuri sungai.

Meskipun setiap gerakan tari tidak secara detail menggambarkan setiap cerita dari Kapal Kato ini, namun gerakan-gerakan cepat dari penari berhasil menghipnotis penonton.

Sesekali tarian melambat menyesuaikan tempo lalu penari kembali dengan cepat meliuk-liukkan badannya seketika musik cepat untuk menggambarkan semangat yang berapi-api dari Kesultanan Siak.

Kapal feri kepunyaan Dinas Perhubungan Kabupaten Siak ini secara kebetulan desainnya dua lantai, sehingga memudahkan panitia untuk mendekorasinya menyerupai Kapal Kato asli yang monumennya bisa dilihat di halaman belakang Istana Siak Sri Indrapura.

Panggung untuk menampilkan Tari Kato berdurasi enam menit itu, dibuat seluas 5x5 meter di lantai bawah. Vita menyebutkan, tarian ini sengaja hanya dimainkan oleh dua penari agar terkesan lebih sederhana, harmonis, dan tidak menghilangkan kemagisan cerita tentang Kapal Kato.

Vita Oktaviana, nama lengkapnya itu, ingin menggali potensi Sungai Siak agar tidak sekadar menjadi jalur transportasi, namun juga bisa menjadi media ekspresi
        Jika siapa saja berkunjung ke Istana Siak, jangan lupa melihat-lihat halaman belakangnya. Di tempat itu pengunjung bisa melihat kapal dengan bahan bakar batu bara, dengan panjang 12 meter dan bobot mencapai 15 ton.

Monumen Kapal Kato diletakkan di kompleks Istana Siak yang berdekatan dengan Sungai Siak. Hal ini akan membuat kesan sejarah semakin kuat dirasakan oleh pengunjung.
           Kapal itu terdiri atas dua lantai. Bagian bawah menggunakan jendela penutup seperti kapal pada umumnya, sedangkan lantai atas dibiarkan terbuka untuk tempat duduk para penumpang.

Meskipun dibuat pada masa lampau, dari desainnya terlihat cukup bagus dan cocok untuk sebuah kendaraan kerajaan. Bagian bawahnya berwarna putih dengan tiang-tiang besi di bagian atas berwarna hitam, sedangkan lantai atas berwarna cokelat dengan atap melingkar dan sebuah tiang besi besar di bagian tengahnya.

    
                       Gali Potensi  
Selama lima bulan lamanya, Tim Ikkon 2018 berada di Kabupaten Siak untuk menggali potensi-potensi daerah berjulukan "Negeri Istana" ini.

Sebanyak 12 anak muda kreatif ini  berkolaborasi dengan perajin, penjahit, penenun, pembuat kaligrafi, pembatik, pelukis, dan penari dari sanggar tari wilayah setempat menyulap dan menghasilkan "wajah baru" agar menumbuhkan kreativitas masyarakat dalam berkarya, serta menciptakan produk dengan kemasan menarik agar bernilai jual.

Ayu Dewanti, seorang antropolog yang bergabung dalam Tim Ikkon 2018, mengatakan empat unsur yang menjadi landasan tim dalam menggali potensi Kabupaten Siak, yaitu Melayu, istana, sungai, dan Islam, sebagai konsep inspirasi dalam menghasilkan produk-produk.

Karya kolaborasi tersebut diberi merek "Akosiak". "Ako" penyebutan untuk akar oleh lidah masyarakat Melayu Siak. "Akosiak" menawarkan berbagai macam produk, layanan desain, serta tarian baru (kreasi).

"'Service desaign' yang kami tawarkan di sini lebih ke bentuk pariwisata, sesuai dengan permintaan dari pemerintah daerah untuk memajukan pariwisata dan ekonomi kreatif Kabupaten Siak," ucap perempuan berparas cantik usia 31 tahun ini.

Tim Ikkon menawarkan konsep  "Royal Table Manner Program" dan "Mock-up Homestay" untuk pengembangan ekonomi kreatif di Kabupaten Siak.

"Berkembang pesatnya Kabupaten Siak sebagai destinasi pariwisata Provinsi Riau, akan berdampak meningkatnya kebutuhan akomodasi. Dengan masih banyaknya rumah khas Melayu yang masih terjaga keasliannya, kami berkeinginan rumah tersebut dikomodifikasi menjadi penginapan atau 'homestay' agar tetap terjaga dan terawat. Sebab otentisitas dari bangunan tersebut akan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung," sebut dia.

Contoh desain "homestay" yang direkomendasikan pada sektor ruangan. Ragam desain yang digunakan lebih organik, mengacu pada kekayaan alam sekitar Sungai Siak dan Istana Siak.

Desain itu akan dikombinasikan dengan geometris yang memiliki nilai spiritualisme dan modernisme. Selain itu, dipadukan dengan rona warna artifisial sejumlah material limbah yang ditemukan di sekitar Kabupaten Siak.

"Jangan lupa menambahkan tenun Siak sebagai aksen dalam memberikan kesan khas Siak tidak bisa ditemui di daerah lain," sambungnya.

Ditambah lagi dengan fotografer yang berkolaborasi dengan satu-satunya arkeolog Siak, Cindy, dalam menyusun buku panduan Istana. Perancang busana berkolaborasi dengan tenun Siak Annisa milik Peni dan Dekranasda terutama Ibu Anna dalam hal membuat batik.
       Perancang komunikasi visual divisi seni visual melukis syair karya Wan Said dalam produk kaus kreasinya dan berkolaborasi karya kaligrafi dengan komunitas Perkazi dan Kampung Seni.

Koreografer tari membuat kreasi tari baru bernama Tari Kato dengan Putri dan Novel, dua orang sarjana tari Siak.

Sebanyak 10 perancang profesional ditambah seorang antropolog dan "business developer" sukses luar biasa mengangkat ataupun mengekplorasi produk-produk di Siak yang dikolaborasikan dengan akar budaya masyarakat Siak.

Keberhasilan ini dapat dilihat dari pameran Akosiak Festival yang dibuka hingga 12 Oktober di Gedung Slamatan Nisak, tepat di samping Istana Siak Sri Indrapura.

Bupati Siak Syamsuar berharap, pengembangan kreativitas yang telah dilakukan Tim Ikkon berkolaborasi dengan masyarakat Siak ini dapat mempromosikan pariwisata Siak dan meningkatkan ekonomi kreatif.

"Adanya kreasi-kreasi baru pada tarian dan produk yang sudah kita saksikan itu dapat memberikan inspirasi kepada perajin, penenun, pembatik, dan generasi muda yang tengah memiliki usaha ekonomi kreatif sehingga dapat dipasarkan," ucapnya.

Apalagi, katanya,  merek "Akosiak" yang diluncurkan Tim Ikkon bersama Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk mewujudkan misi ekonomi kreatif, sudah sesuai dengan gambaran Kabupaten Siak, yaitu Melayu, Islam, sungai dan istana.

"Itu akan menjadi inspirasi bagi masyarakat Kabupaten Siak dalam pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif ke depannya. Semoga pariwisata dan ekonomi kreatif Kabupaten Sak dan Provinsi Riau secara umum terus berkembang," terang Gubernur Riau terpilih ini yang akan dilantik pada Maret 2019.




Komentar Anda

Top