ANTARA Riau

logo
  • Home Bangkitkan Kembali Program KB di Era Reformasi

Bangkitkan Kembali Program KB di Era Reformasi

Bandarlampung,   (Antarariau.com) - Pemerintah Indonesia telah membuat suatu kebijakan untuk menekan angka pertumbuhan penduduk yaitu dengan program Keluarga Berencana. Program yang diluncurkan pada masa Orde Baru itu terbilang sukses.

Namun, setelah Presiden kedua RI Soeharto lengser program KB seolah-olah ikut hilang. Tidak adalagi sosialisasi atau penyuluhan tentang KB secara berkala di daerah.

Dahulu masyarakat sangat akrab dengan motto yang menyebutkan bahwa "Dua anak saja cukup". Motto tersebut juga disertai gambar keluarga bahagia yang menginspirasi banyak keluarga di Indonesia.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Surya Chandra Surapaty mengakui pelaksanaan program KB makin melemah sejak reformasi, 17 tahun yang lalu.

Sesuai butir ke-5 Nawacita, yakni membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia, dan butir ke-8, yaitu melakukan revolusi karakter bangsa, maka program Kependudukan, Keluarga Berencana, dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) harus diterapkan dengan merevitalisasi program KB yang diakui semakin melemah sejak reformasi 17 tahun yang lalu.

Saat Puncak Hari Keluarga Nasional XXIV di Pusat Kegiatan Olahraga (PKOR) Wayhalim, Bandarlampung, Sabtu (15/7), ia mengatakan program KKBPK harus diterapkan dengan merevitalisasi program KB.

Melalui program KB, setiap keluarga Indonesia diharapkan memiliki rata-rata dua anak demi mewujudkan Penduduk Tumbuh Seimbang (PTS) pada 2025, yang ditandai dengan Angka Fertilitas Total (TFR) sebesar 2,1 dan Angka Reproduksi Neto (NRR) sebesar 1.

Ia mengemukakan kebijakan pembangunan nasional maupun daerah harus diarahkan agar mendukung atau sejalan dengan misi pengendalian kuantitas penduduk, peningkatan kualtias penduduk, pengarahan mobilisasi penduduk dan penyediaan data kependudukan yang akurat menurut nama dan alamat.

Selain itu, melalui program pembangunan keluarga, maka setiap keluarga di Indonesia dapat meningkatkan ketahanan dan pemberdayaannya.

Hal itu, dapat ditempuh melalui berbagai program pembinaan ketahanan keluarga dan pemberdayaan ekonomi keluarga.

Setiap keluarga menjalankan delapan fungsi secara optimal, yaitu fungsi keagamaan, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, dan pelestarian lingkungan.

"Pada akhirnya akan terbentuk generasi emas bangsa Indonesia yang berkualitas, berkompeten, dan berkarakter," jelasnya.

Tema Harganas tahun ini, yakni "Dengan Harganas Kita Bangun Karakter Bangsa melalui Keluarga yang Berketahanan".

Pesan inti atas tema tersebut, diharapkan dapat menjadi pemicu bagi keluarga Indonesia untuk terus berupaya meningkatkan ketahanan keluarganya sehingga mampu melahirkan generasi ke depan yang lebih berkualitas.

         
                          Peran Keluarga
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani menegaskan kembali pentingnya peran keluarga dalam kehidupan.

"Peringatan Harganas menjadi wadah untuk meningkatkan kembali akan pentingnya arti keluarga bagi kita semua," kata Puan pada peringatan puncak Harganas XXIV Tahun 2017 di Pusat Kegiatan Olahraga (PKOR)  Wayhalim, Bandarlampung, Sabtu (15/7).

Tema Harganas XXIV Tahun 2017, "Dengan Harganas Kita Bangun Karakter Bangsa melalui Keluarga yang Berketahanan", katanya, berkaitan dengan peran keluarga yang menjadi wahana utama dalam pembangunan karakter bangsa.  

Keluarga yang berketahanan dan sejahtera adalah keluarga yang memiliki ketangguhan dan kemampuan secara sosial, ekonomi, dan budaya.

"Sehingga kehidupan keluarga dapat hidup mandiri, sejahtera, dan bahagia," jelasnya.

Pembangunan yang saat ini dilakukan, ucapnya, bukan hanya bidang infastruktur, namun juga membangun sumber daya manusia.

Sumber daya manusia Indonesia, lanjutnya, bukan hanya dalam internal namun harus bisa berkompetisi di dunia internasional.

"Di mulai dari keluarga, bagaimana menjaga keluarga untuk dapat berpikir positif dan bermanfaat bagi lingkungannya. Untuk itu, di perlukan sinergitas dari pemerintah daerah dan pusat," ujarnya.

Puan menjelaskan perluasan cakupan Program Keluarga Harapan (PKH) dari 2,7 juta pada 2014 menjadi sekitar 10 juta pada 2018, memperlihatkan besarnya komitmen pemerintah dalam pembangunan keluarga.

Ia mengingatkan tentang pentingnya upaya serius unntuk memberi masa depan yang lebih cerah dan menciptakan manusia Indonesia yang semakin berkualitas.

Menko PMK juga mengingatkan akan pentingnya KB yang tidak hanya dimaknai sebagai upaya pengendalian kelahiran semata, namun membangun kesadaran akan pentingnya perencanaan dalam setiap keluarga Indonesia.

Caranya bagaimana membangun keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera, merencanakan kemandirian ekonomi keluarga, merencanakan keluarga yang berpendidikan, dan merencanakan keluarga yang sehat.

Keberhasilan program KB memberikan manfaat bagi generasi masa depan dan negara dalam mengelola kehidupan yang lebih sejahtera.

"Saya menekankan akan pentingnya arti keluarga, dengan peringatan Harganas saya mengajak seluruh keluarga Indonesia untuk mewujudkan keluarga yang berkumpul, keluarga yang berinteraksi, keluarga yang melindungi, dan keluarga yang peduli," ujarnya.

Ia menambahkam kesadaran akan arti penting keluarga tidak hanya saat Hari Keluarga Nasional, melainkan terus menerus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan semboyan "Dua Anak Cukup Bahagia Sejahtera" diharapkan dapat membangkitkan kembali program KB.

Program KB diharapkan menjadi pendorong bagi keluarga Indonesia untuk terus berupaya meningkatkan ketahanan keluarganya sehingga mampu melahirkan generasi masa depan yang lebih berkualitas.


Komentar Anda

Top