style="font-style: italic;">"Pada bulan ini aku ke Belgia, pada bulan dan tahun ini aku akan "/>

ANTARA Riau

logo
  • Home Kenalan Dengan Buffon, "Kids Jaman Now" Yang Harumkan Nama Indonesia

Kenalan Dengan Buffon, "Kids Jaman Now" Yang Harumkan Nama Indonesia

Oleh F.B. Anggoro/Nella Marni

"Pada bulan ini aku ke Belgia, pada bulan dan tahun ini aku akan mencetak medali. Kesempatan ini tidak akan aku sia-siakan demi negaraku Indonesia. Indonesia medali emas siap aku persembahkan." 

Pekanbaru (Antarariau.com) - Untaian kata-kata itu tertera jelas disebongkah batu di samping rumah Buffon yang sederhana di Kelurahan Perawang Kabupaten Siak, Riau.

Mayoritas orang yang mendengar nama Buffon tentu langsung terbayang sosok tinggi tegap pesepak bola tim nasional Italia dan klub Juventus, Gianlugi Buffon. Namun, Buffon yang menulis di batu itu jauh lebih kecil dan masih sangat belia.

Ia adalah Buffon Julianto Sinaga, karateka asal Kabupaten Siak, yang berhasil mengharumkan nama Indonesia di kejuaraan karate internasional "Edition of Internasional Karate Open of Prov de Liega 2017" di Belgia, medio November.

Orang tua anak ini terinsipirasi oleh kehebatan kiper yang bernama sama yang sukses mengantarkan Italia sebagai juara pada Piala Dunia 2006. Pada tahun yang sama itulah Buffon Julianto Sinaga dilahirkan. Masa depannya tampaknya bakal cerah dari olahraga karate yang ditekuninya.

"Aku adalah Buffon Julianto Sinaga, medali emas siap aku persembahkan untuk Indonesia," katanya dengan mantap.

Sosok anak ini sebenarnya terlihat pemalu dan polos. Lahir di Perawang pada tanggal 12 Juli 2006 dari pasangan suami-istri Tohap Sinaga dan Zuniar Simbolon, Buffon Sinaga ternyata memiliki tekad yang kuat di dalam badannya yang kecil. Hasratnya yang kuat terhadap karate, kemudian dia tulis di batu yang ada di samping rumahnya.

Sebelum meraih emas di Belgia, dia juga pernah menuliskan tekadnya di batu itu. "Aku laki-laki, aku ikut karate sejak 2014, aku ingin membanggakan kedua orang tua, kakak, dan abangku." Itulah kata-kata yang sangat menakjubkan dari siswa kelas V SD ini.

Uniknya, dia menuliskan semua itu sebelum mengikuti pertandingan besar. Impian yang ditulis karateka cilik berusia 9 tahun itu perlahan mampu diwujudkannya menjadi sebuah kenyataan. Buffon pertama kali meraih medali emas di ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) 2017 untuk kategori seni karate atau kata di Medan, Sumatera Utara.

Keberhasilan Buffon termasuk luar biasa karena baru sekali ikut kejuaraan karate di O2SN langsung keluar juara sehingga berhak menjadi salah satu atlet mewakili Indonesia di tingkat internasional. Pada kejuaraan di Belgia itu, Buffon menorehkan kembali prestasi gemilang dengan menyumbang emas untuk Tanah Air.

Ketertarikannya dengan olahraga bela diri itu bermula sejak Buffon duduk di bangku kelas dua SD. Dia bergabung ke dalam Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (Forki) Kabupaten Siak karena kekagumannya melihat abang kandungnya yang juga berlatih karate.

"Awalnya ingin seperti abang yang bisa meraih juara di bidang karate, lalu saya minta ikut latihan dengan abang dan juga minta didaftarkan untuk ikut latihan," katanya.

Buffon menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi tidak menyurutkan kegigihannya dalam mencapai prestasi di tingkat nasional maupun internasional. Buffon dibesarkan dalam keluarga yang sangat sederhana, bahkan terlihat sangat pas-pasan. Dia tinggal dengan orang tuanya bersama dua kakak perempuan dan abangnya di sebuah rumah kayu, Perawang. Rumah itu juga sekaligus sebagai warung menjual minuman orang tuanya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Sekitar 4 tahun lamanya dia berlatih karate di bawah binaan pelatihnya yang bernama Rio di Forki Siak. Kerasnya hidup Buffon cilik dan motivasi dari abangnya menebalkan tekadnya untuk berprestasi sebagai karateka. Dia bertekad ingin sehebat abangnya, bahkan kalau bisa lebih sukses lagi.

"Saya tidak sengaja di dalam hati seperti disuruh untuk menuliskan kata-kata itu di atas batu," katanya sambil tersenyum ketika ditanyakan mengapa dia menuliskan cita-cita dan impiannya membawa medali di sebuah batu.

Meskipun terhitung masih singkat sebagai karateka, tekad kuat dan usaha kerasnya mampu membawa harum nama keluarganya, bahkan Indonesia di ajang karate dunia. Buffon sendiri mengaku masih tidak percaya mampu mengalahkan lawan-lawannya saat di Belgia.

Ia awalnya begitu takut melihat badan lawannya yang lebih besar daripada dirinya. "Awalnya sangat grogi dan takut karena badan lawan besar-besar," ujar Buffon yang mengidolakan Rika Usami, karateka wanita berprestasi asal Jepang.

    
Dukungan untuk Buffon

Kesuksesan yang diraih Buffon tidak terlepas dari dukungan keluarga, pelatih, dan pembina yang terus melatihnya setiap hari sepulang sekolah. Tohap Sinaga, ayah Buffon, selalu mendukung pilihan anak-anaknya selama itu aktivitas positif.

"Yang jelas saya sangat bangga anak saya meraih juara berkat pelatih dan pembimbingnya," kata Tohap.

Lelaki 41 tahun itu mengaku mendukung anaknya ikut karate karena abangnya sudah terlebih dahulu berkecimpung dalam olahraga bela diri ini. Menurut dia, kegiatan tersebut akan mencegah anak-anak bersikap brandalan. Apalagi, anak-anak di lingkungan Buffo di Perawang banyak yang kecanduan menghirup lem atau "ngelem".

"Saya sangat mendukung agar dia bisa berprestasi di bidang olahraga. Agar tidak menjadi berandal yang ikut 'ngelem-ngelem'," katanya.

Setelah meraih emas di kejuaraan karate di Belgia, Buffon disambut layaknya pahlawan di kampung halamannya. Bahkan, keluarga dan rombongan pejabat Pemkab Siak sampai menjemput langsung Buffon di Bandara Sultan Syarif Kasim II Kota Pekanbaru.

Air mata bahagia pun tidak bisa Buffon sembunyikan saat dia mendapat kalungan bunga dan digendong dengan bangga oleh Sang Ayah. Sesampainya di Kecamatan Perawang, Buffon juga diarak-arak keliling kota itu sebagai tanda kemenangan.

Selain itu, Pemkab Siak juga akan memperbaiki rumah orang tua Buffon sebagai hadiah atas prestasi yang sudah diraih karateka cilik itu.

"Atas prestasinya yang telah mengharumkan nama Indonesia, kami akan membangun rumah orang tuanya menjadi permanen," kata Bupati Siak Syamsuar.

Syamsuar mengatakan bahwa pemerintah daerah juga akan membuatkan kedai untuk ayah Buffon berjualan kopi. "Di sanalah dia dibesarkan. Meskipun berasal dari keluarga tidak mampu, dia tetap bisa berprestasi," tuturnya.

Selain hadiah berupa perbaikan rumah menjadi permanen, Bupati Siak juga akan memberikan kios kepada orang tua Buffon untuk berjualan di pasar baru yang dibangun Pemkab Siak.

Semoga semua dukungan yang dicurahkan itu bisa melambungkan Buffon dari Siak untuk terus berprestasi lewat karate yang dicintainya itu.


Komentar Anda

Top