PTPNV

Melancong ke Benteng Suku Sakai Bagian Tiga, Hilangnya Identitas

Melancong ke Benteng Suku Sakai Bagian Tiga, Hilang Identitas

    
Pekanbaru, (Antarariau.com) - Sebagai besar hidup Bathin Yatim adalah menjadi saksi hidup mengenai betapa sulitnya kehidupan Suku Sakai yang telah kehilangan identitasnya.  Ia mengungkapkan ada perasaan senang bercampur kepedihan melihat rumah adat Suku Sakai yang baru. Rumah adat itu memang terlihat kokoh dengan dinding kayu yang dipernis hingga coklat mengkilap, tiang pancang besi warna merah, dan atap seng antibocor berwarna hijau tua. Namun, ada kesedihan yang dipendamnya karena rumah adat itu sudah jauh berbeda dari yang sebelumnya dibuat menggunakan bahan baku yang berasal dari hutan alam.
    
"Kalau dari bentuknya masih sama seperti yang lama, tapi sudah jauh berbeda karena rumah adat yang lama tak pakai besi dan atap seng. Tapi mau bagaimana lagi karena sekarang hutan hampir habis tinggal 300 hektare hutan adat yang tersisa, kayu dan rotan makin sulit dicari," katanya.  
    
Bathin Yatim masih ingat bagaimana uniknya rumah adat Suku Sakai yang lama dibuat dari bahan baku pilihan mulai dari kayu kulim dan meranti untuk tiang pancangnya, dinding dari kulit kayu, atap dari daun rumbia dengan hiasan buah pinang dipucuknya, hingga lantai kayu yang dilapisi jalinan rotan di atasnya.  
    
Butuh musyawarah adat yang cukup lama untuk menerima tawaran perusahaan untuk membangun ulang rumah adat dengan bahan baku yang modern. Karena pertimbangan bahan baku yang langka, akhirnya para pemuka adat menyetujui pembangunan tersebut supaya rumah adat bisa bertahan lebih lama.
    
"Bagaimana pun juga kita harus maju ke depan, sudah jadi tanggung jawab masyarakat kita agar budaya tidak hilang," katanya.
        
Ia menjelaskan, Suku Sakai "dipaksa" kehilangan akar budayanya pada saat pemerintah Indonesia pada masa Orde Baru mulai memberikan izin usaha kepada perusahaan kehutanan. Hutan yang menjadi sumber hidup dan identitas mereka mulai dikapling-kapling untuk para pebisnis. Tradisi ladang berpindah Suku Sakai dicap sebagai tindakan merusak lingkungan, dan mereka dipaksa menempati rumah permanen bantuan Kementerian Sosial agar tidak lagi hidup nomaden.

"Akhirnya rumah-rumah itu kosong karena yang kami tahu adalah cara hidup di hutan, dan kami juga yang akhirnya dipersalahkan. Kami dipaksa mengubah tradisi tanpa dipikirkan kelangsungan ekonomi kami, dan rasanya itu tidak adil buat kami," kata Bathin Yatim.
    
Ia mengatakan butuh waktu lama sampai akhirnya pemerintah mulai memahami kearifan lokal Suku Sakai, dan perusahaan-perusahaan yang beroperasi disekitarnya mulai memberikan bantuan untuk memperbaiki kehidupan Suku Sakai. Meski begitu, Suku Sakai sudah terlanjur kehilangan identitas karena hutan adat nyaris musnah. "Hutan sangat penting bagi kami, itu jadi apotek hidup dan warisan untuk anak-cucu kami," katanya.
    
Ia berharap rumah adat yang baru bisa menjadi pusat pelestarian budaya dan "benteng" terakhir bagi Suku Sakai. Rimbo adat seluas 300 hektare disekitar rumah adat itu akan terus dijaga dengan aturan adat yang keras.
    
"Ada sanksi adat bagi warga Sakai yang nekat menebang pohon di rimbo adat, namun untuk orang luar yang berani merusaknya tidak perlu sanksi adat karena kami akan langsung bunuh," tegas Bathin Yatim.

Bersambung....

Baca juga : Melancong ke Benteng Suku Sakai Bagian Dua, Jepang Hingga Pagaruyung

loading...